MANAGED BY:
KAMIS
22 FEBRUARI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Jumat, 30 Juni 2017 17:50
LIPUTAN KHUSUS
Sejarah, Potensi dan Nilai Ekonomi Kerbau Rawa Jenamas
Sekelompok kerbau rawa milik peternak di Jenamas Kabupaten Barito Selatan. (AGUS PECE/KALTENG POS)

PROKAL.CO, KERBAU rawa Jenamas awalnya dikembangkan atau dibawa oleh pendatang dari Kalimantan Selatan pada awal 1960-an. Kala itu ia menitipkan enam ekor kerbau rawa untuk dikembangbiakkan. H Idar, yang merupakan kakek dari H Isran menjadi pelaku sejarah kerbau rawa.

H Idar meninggal di usia 125 tahun pada 1990 itu menjadi penggembala pertama. Sistem bagi hasil diterapkan dengan warga pendatang yang namanya sudah tak diingat lagi. Jika indukan beranak dua ekor, dibagi satu untuk pemilik dan satu buat penggembala. Sistem (paruh) itu juga masih dilestarikan sampai saat ini.

Dari enam ekor tersebut, setiap tahunnya jumlahnya kian bertambah. Dijualbelikan ke masyarakat Jenamas. Sampai akhirnya populasinya meningkat pesat. Efek berantai. Roda ekonomi sedikit terdorong.

"Dulu keluarga saya yang paling banyak punya kerbau, sampai 300 ekor lebih," ujar pria berkumis tipis ini yang sudah belajar menggembala kerbau sejak usia 12 tahun itu.

Potensi dan nilai ekonomi kerbau berwarna abu-abu gelap juga sangat menjanjikan. Harga satu ekor kerbau dewasa gemuk mencapai Rp23 juta. Untuk yang masih berusia 2 tahun, sudah setara harga sepeda motor jenis matik baru.

Komposisi daging kerbau rawa ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan ternak besar lainnya. Seekor kerbau dewasa bisa sampai 150 kg dari bobot maksimal 400-450 kg. Kadar lemak dan protein lebih tinggi dibadingkan dengan sapi. Bobot lahir saja sudah mencapai 30-40 kg. Jarak kelahiran sekali dalam dua tahun, umur melahirkan pertama 4-5 tahun, umur produktif 10-12 tahun.

Data dari peternak, menyebut populasi kerbau rawa mencapai tujuh ribu ekor lebih (2014 dan 2015). Memelihara kerbau sudah diwariskan secara turun-temurun. Jumlah peternak lebih 100 orang. Terus bertambah sejak awal 1960-an hingga sekarang.

Nilai ekonomis bak berbanding terbalik bagi Pemkab Barsel. Pendapatan Asli Daerah (PAD) bocor. Tapi halus. Imbas belum ada langkah nyata membangun dan mengelola wisata kerbau rawa. Bahkan, hasil penjualan kerbau rawa itu mengalir ke Kalimantan Selatan.

Untungnya, kebocoran kecil ditemukan. Ada pada surat-menyurat. Ternyata, selain surat jalan yang dikeluarkan kepala desa, peternak membutuhkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari dinas terkait untuk menjual ternak. Baik dijual di wilayah Barsel maupun ke Kalsel yang menjadi pasar utama. Syarat itu mutlak harus dilengkapi. Jika tidak, kerbau yang dijual dianggap ilegal. Jeleknya lagi, dianggap kerbau curian.

“Selama ini kita memang nggak mendapatkan surat itu dari dinas yang ada di Barsel. Hanya surat jalan dari kepala desa," ujar H Isran pemilik 175 ekor kerbau rawa.

Selama ini, transaksi tetap berjalan karena peternak mendapatkan SKKH di Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalsel. Lebih mudah, cepat dan efisien. Danau Panggang merupakan kecamatan yang berbatasan langsung dengan Jenamas. Jarak tempuh paling lambat 90 menit melalui jalur sungai. Jika menuju ke Ibu Kota Barsel, Buntok, menempuh waktu sampai tiga jam.

Untuk mendapatkan SKKH dihitung per ekor. Satu ekor kerbau rawa, peternak harus mengeluarkan biaya sebesar Rp15 ribu (2016) dan Rp20 ribu (2017) kepada Dinas Peternakan Hulu Sungai Utara.
Dalam setahun, peternak di Jenamas bisa menjual kerbau sampai 1.000 ekor. Jika dikalikan Rp15 ribu saja, sudah Rp15 juta. Belum lagi 1.000 dikalikan harga jual Rp23 juta, hasilnya mencapai Rp23.000.000.000.

Nominal itu memang jauh dibanding PAD yang diserap dari perusahaan tambang batu bara yang eksis di Kabupaten berjuluk Dahai Dahanai Tuntung Tulus itu. Para peternak menginginkan dinas terkait menempatkan petugasnya di Kecamatan Jenamas. Seperti yang pernah dirasakan 10 tahun silam. Peternak dengan mudah mendapatkan SKKH. Waktu itu masih Rp2.500 per ekor saja.

“Kita para peternak juga sedih melihat situasi seperti ini. Inginnya kita bisa berkontribusi buat daerah,” kata bapak berusia 56 tahun itu diamini peternak lainnya saat berbincang-bincang di pondok yang ada di tengah-tengah hamparan rawa.

Camat Jenamas, Haitani, mengungkapkan selama ini para peternak mendapatkan SKKH dari Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalsel. Masalah jarak tempuh ke Jenamas menuju Buntok menjadi kendala. Begitu juga tidak adanya petugas dari dinas terkait di kecamatan melayani surat-menyurat. Dengan kondisi seperti ini, menurutnya Pemkab Barsel tidak bisa menyerap PAD dari kerbau rawa.

“Kita sudah sering sampaikan ke dinas, tapi tidak ada tindak lanjutnya,” katanya.  (ram/c3/abe/nto)


BACA JUGA

Kamis, 22 Februari 2018 09:52
Menelusuri Bekas Kampung Etnis Tionghoa di Kobar (3/Habis)

Tak Diperhatikan, Tetap Jadi Magnet Wisata Sejarah

Keunikan bangunan tua yang berdiri sejak ratusan tahun silam, serta melihat keseharian warga keturunan…

Kamis, 22 Februari 2018 06:49
Menengok Prosesi Sidang BP4R di Mapolda Kalteng

Berawal dari Joget, Tumbuh Benih-benih Cinta

Wajib hukumnya bagi anggota Polri yang ingin menikah. Harus melewati sidang Badan Pembantu Penasihat…

Rabu, 21 Februari 2018 09:16
Melihat Eksotis Taman Hutan Raya Lapak Jarum yang Memesona

Tebing dan Gua Menambah Keindahan Flora dan Fauna

Bumi Habangkalan Penyang Karuhei Tatau menyimpan banyak pemandangan alam yang membelalakkan mata. Topografi…

Selasa, 20 Februari 2018 09:13
Menelusuri Bekas Kampung Etnis Tionghoa di Kobar (1)

Sudah Berdiri sejak Zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit

Bangunan tua bergaya China tradisional yang konon telah berdiri sejak ratusan tahun silam itu, merupakan…

Jumat, 16 Februari 2018 10:54
Fakta Persidangan Dugaan Pembakaran Tujuh Gedung SD

Modus Minta Sumbangan sambil Memetakan Sekolah

Sidang perkara dugaan pembakaran tujuh gedung SD di PN Jakarta Barat, terus berlanjut. Sidang sebelumnya,…

Kamis, 15 Februari 2018 09:36
Ketika Membuka Lahan dengan Cara Dibakar Dilarang

Ratusan Hektare Lokasi Pertanian Sebuai Barat Terbengkalai

Larangan membuka lahan dengan cara dibakar, ternyata berdampak cukup besar bagi masyarakat, karena selama…

Selasa, 13 Februari 2018 10:30

Jaringan Pipa Terbengkalai, Air Tak Mengalir

Berharap Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), dapat mengatasi kesulitan…

Sabtu, 10 Februari 2018 08:11
Melirik Bisnis Budi Daya Madu Kelulut di Kobar (2/Habis)

Satu Liter Bisa Mencapai Rp600 Ribu

Potensi usaha budi daya madu kelulut di Kabupaten Kotawaringin Barat, masih berpeluang besar untuk dikembangkan.…

Senin, 05 Februari 2018 12:52

Melihat Sepak Terjang Anggota Brimob Polda Kalteng di Tanah Papua (1)

Sebanyak 100 anggota Satbrimob Polda Kalteng menjalani tugas di Areal PT Freeport Indonesia, Distrik…

Minggu, 04 Februari 2018 08:12
Kisah Lima Hari Berburu Pemangsa Manusia

Tangkap Buaya dengan Umpan Itik dan Monyet

Perburuan buaya pemakan manusia di Desa Sebangau Jaya, Pulang Pisau, membuahkan hasil. Buaya yang diyakini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .