MANAGED BY:
JUMAT
22 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Jumat, 30 Juni 2017 17:50
LIPUTAN KHUSUS
Sejarah, Potensi dan Nilai Ekonomi Kerbau Rawa Jenamas
Sekelompok kerbau rawa milik peternak di Jenamas Kabupaten Barito Selatan. (AGUS PECE/KALTENG POS)

PROKAL.CO, KERBAU rawa Jenamas awalnya dikembangkan atau dibawa oleh pendatang dari Kalimantan Selatan pada awal 1960-an. Kala itu ia menitipkan enam ekor kerbau rawa untuk dikembangbiakkan. H Idar, yang merupakan kakek dari H Isran menjadi pelaku sejarah kerbau rawa.

H Idar meninggal di usia 125 tahun pada 1990 itu menjadi penggembala pertama. Sistem bagi hasil diterapkan dengan warga pendatang yang namanya sudah tak diingat lagi. Jika indukan beranak dua ekor, dibagi satu untuk pemilik dan satu buat penggembala. Sistem (paruh) itu juga masih dilestarikan sampai saat ini.

Dari enam ekor tersebut, setiap tahunnya jumlahnya kian bertambah. Dijualbelikan ke masyarakat Jenamas. Sampai akhirnya populasinya meningkat pesat. Efek berantai. Roda ekonomi sedikit terdorong.

"Dulu keluarga saya yang paling banyak punya kerbau, sampai 300 ekor lebih," ujar pria berkumis tipis ini yang sudah belajar menggembala kerbau sejak usia 12 tahun itu.

Potensi dan nilai ekonomi kerbau berwarna abu-abu gelap juga sangat menjanjikan. Harga satu ekor kerbau dewasa gemuk mencapai Rp23 juta. Untuk yang masih berusia 2 tahun, sudah setara harga sepeda motor jenis matik baru.

Komposisi daging kerbau rawa ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan ternak besar lainnya. Seekor kerbau dewasa bisa sampai 150 kg dari bobot maksimal 400-450 kg. Kadar lemak dan protein lebih tinggi dibadingkan dengan sapi. Bobot lahir saja sudah mencapai 30-40 kg. Jarak kelahiran sekali dalam dua tahun, umur melahirkan pertama 4-5 tahun, umur produktif 10-12 tahun.

Data dari peternak, menyebut populasi kerbau rawa mencapai tujuh ribu ekor lebih (2014 dan 2015). Memelihara kerbau sudah diwariskan secara turun-temurun. Jumlah peternak lebih 100 orang. Terus bertambah sejak awal 1960-an hingga sekarang.

Nilai ekonomis bak berbanding terbalik bagi Pemkab Barsel. Pendapatan Asli Daerah (PAD) bocor. Tapi halus. Imbas belum ada langkah nyata membangun dan mengelola wisata kerbau rawa. Bahkan, hasil penjualan kerbau rawa itu mengalir ke Kalimantan Selatan.

Untungnya, kebocoran kecil ditemukan. Ada pada surat-menyurat. Ternyata, selain surat jalan yang dikeluarkan kepala desa, peternak membutuhkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari dinas terkait untuk menjual ternak. Baik dijual di wilayah Barsel maupun ke Kalsel yang menjadi pasar utama. Syarat itu mutlak harus dilengkapi. Jika tidak, kerbau yang dijual dianggap ilegal. Jeleknya lagi, dianggap kerbau curian.

“Selama ini kita memang nggak mendapatkan surat itu dari dinas yang ada di Barsel. Hanya surat jalan dari kepala desa," ujar H Isran pemilik 175 ekor kerbau rawa.

Selama ini, transaksi tetap berjalan karena peternak mendapatkan SKKH di Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalsel. Lebih mudah, cepat dan efisien. Danau Panggang merupakan kecamatan yang berbatasan langsung dengan Jenamas. Jarak tempuh paling lambat 90 menit melalui jalur sungai. Jika menuju ke Ibu Kota Barsel, Buntok, menempuh waktu sampai tiga jam.

Untuk mendapatkan SKKH dihitung per ekor. Satu ekor kerbau rawa, peternak harus mengeluarkan biaya sebesar Rp15 ribu (2016) dan Rp20 ribu (2017) kepada Dinas Peternakan Hulu Sungai Utara.
Dalam setahun, peternak di Jenamas bisa menjual kerbau sampai 1.000 ekor. Jika dikalikan Rp15 ribu saja, sudah Rp15 juta. Belum lagi 1.000 dikalikan harga jual Rp23 juta, hasilnya mencapai Rp23.000.000.000.

Nominal itu memang jauh dibanding PAD yang diserap dari perusahaan tambang batu bara yang eksis di Kabupaten berjuluk Dahai Dahanai Tuntung Tulus itu. Para peternak menginginkan dinas terkait menempatkan petugasnya di Kecamatan Jenamas. Seperti yang pernah dirasakan 10 tahun silam. Peternak dengan mudah mendapatkan SKKH. Waktu itu masih Rp2.500 per ekor saja.

“Kita para peternak juga sedih melihat situasi seperti ini. Inginnya kita bisa berkontribusi buat daerah,” kata bapak berusia 56 tahun itu diamini peternak lainnya saat berbincang-bincang di pondok yang ada di tengah-tengah hamparan rawa.

Camat Jenamas, Haitani, mengungkapkan selama ini para peternak mendapatkan SKKH dari Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalsel. Masalah jarak tempuh ke Jenamas menuju Buntok menjadi kendala. Begitu juga tidak adanya petugas dari dinas terkait di kecamatan melayani surat-menyurat. Dengan kondisi seperti ini, menurutnya Pemkab Barsel tidak bisa menyerap PAD dari kerbau rawa.

“Kita sudah sering sampaikan ke dinas, tapi tidak ada tindak lanjutnya,” katanya.  (ram/c3/abe/nto)


BACA JUGA

Sabtu, 09 September 2017 07:04
Pariman, Pengidap Penyakit Misterius Pascaoperasi

Dada Membengkak, Tak Punya Biaya untuk Kemoterafi

Pariman sontak menjadi perhatian dan keprihatinan dari masyarakat Kota Nanga Bulik, karena harus menahan…

Minggu, 03 September 2017 21:56
Sukarman, Tiga Tahun Derita Kanker Darah

Sudah 25 Kali Masuk Rumah Sakit, Dirujuk ke Banjarmasin Tidak Punya Biaya

Sukarman (54) hanya bisa terbaring di dalam rumah berukuran 4x6 milik Anjeng Kartini seorang warga di…

Sabtu, 02 September 2017 01:41
Rinco Norkim Berpulang

Selamat Jalan “Sang Penjaga Hutan”

  DI TENGAH kekhidmatan merayakan Hari Raya Iduladha, kabar duka juga tiba-tiba terdengar menjelang…

Selasa, 22 Agustus 2017 06:56
Cara Polres Kobar Mencegah Karhutla di Bumi Marunting Batu Aji

Sebarkan Maklumat Kapolda Sampai ke Desa Terpencil

Polres Kotawaringin Barat (Kobar) begitu intens menjaga daerah berjuluk Bumi Marunting Batu Aji dari…

Kamis, 17 Agustus 2017 21:07

Oleh-oleh dari menuntut Ilmu di Negeri Matahari, Jepang (11)

Banyak alasan orang dewasa di Jepang menunda perkawinan. Bahkan terkesan momok bagi mereka yang ingin…

Rabu, 16 Agustus 2017 07:02
Yang Dilakukan Sakariyas di Hari Pertama Menjabat Bupati Katingan

Kumpulkan Semua Pegawai dan Tokoh Masyarakat

Sakariyas resmi menjadi orang nomor satu di Kabupaten Katingan, Jumat (11/8) lalu, namun kesibukannya…

Rabu, 16 Agustus 2017 00:50
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (7)

Pekerja Dilarang Telat, Transportasi Harus Sesuai Perjanjian

Teraturnya lalu lintas di Jepang membuat kagum banyak orang, termasuk rombongan Kalteng Pos Group. Jalan…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:58
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (6)

Hachiko Anjing Setia Terkenal setelah Masuk Koran

Hachiko tak kenal menyerah untuk menemukan majikannya. Si anjing itu tetap setia menunggu Profesor Ueno…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:53
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (5)

Anjing Hachiko Sembilan Tahun Menunggu Tuannya

Berkunjung ke Jepang rasanya kurang lengkap sebelum mengunjungi Patung Hachiko. Patung itu dibuat untuk…

Selasa, 15 Agustus 2017 06:24
Slamet, Seniman Berbakat dari Lapas Klas IIB Pangkalan Bun

Lukisan Bupati Jadi Kado di Hari Kemerdekaan

Selama menjalani sepertiga masa hukuman, sudah sederet lukisan lahir dari tangan seniman Slamet Wisnu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .