MANAGED BY:
KAMIS
23 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Jumat, 30 Juni 2017 17:50
LIPUTAN KHUSUS
Sejarah, Potensi dan Nilai Ekonomi Kerbau Rawa Jenamas
Sekelompok kerbau rawa milik peternak di Jenamas Kabupaten Barito Selatan. (AGUS PECE/KALTENG POS)

PROKAL.CO, KERBAU rawa Jenamas awalnya dikembangkan atau dibawa oleh pendatang dari Kalimantan Selatan pada awal 1960-an. Kala itu ia menitipkan enam ekor kerbau rawa untuk dikembangbiakkan. H Idar, yang merupakan kakek dari H Isran menjadi pelaku sejarah kerbau rawa.

H Idar meninggal di usia 125 tahun pada 1990 itu menjadi penggembala pertama. Sistem bagi hasil diterapkan dengan warga pendatang yang namanya sudah tak diingat lagi. Jika indukan beranak dua ekor, dibagi satu untuk pemilik dan satu buat penggembala. Sistem (paruh) itu juga masih dilestarikan sampai saat ini.

Dari enam ekor tersebut, setiap tahunnya jumlahnya kian bertambah. Dijualbelikan ke masyarakat Jenamas. Sampai akhirnya populasinya meningkat pesat. Efek berantai. Roda ekonomi sedikit terdorong.

"Dulu keluarga saya yang paling banyak punya kerbau, sampai 300 ekor lebih," ujar pria berkumis tipis ini yang sudah belajar menggembala kerbau sejak usia 12 tahun itu.

Potensi dan nilai ekonomi kerbau berwarna abu-abu gelap juga sangat menjanjikan. Harga satu ekor kerbau dewasa gemuk mencapai Rp23 juta. Untuk yang masih berusia 2 tahun, sudah setara harga sepeda motor jenis matik baru.

Komposisi daging kerbau rawa ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan ternak besar lainnya. Seekor kerbau dewasa bisa sampai 150 kg dari bobot maksimal 400-450 kg. Kadar lemak dan protein lebih tinggi dibadingkan dengan sapi. Bobot lahir saja sudah mencapai 30-40 kg. Jarak kelahiran sekali dalam dua tahun, umur melahirkan pertama 4-5 tahun, umur produktif 10-12 tahun.

Data dari peternak, menyebut populasi kerbau rawa mencapai tujuh ribu ekor lebih (2014 dan 2015). Memelihara kerbau sudah diwariskan secara turun-temurun. Jumlah peternak lebih 100 orang. Terus bertambah sejak awal 1960-an hingga sekarang.

Nilai ekonomis bak berbanding terbalik bagi Pemkab Barsel. Pendapatan Asli Daerah (PAD) bocor. Tapi halus. Imbas belum ada langkah nyata membangun dan mengelola wisata kerbau rawa. Bahkan, hasil penjualan kerbau rawa itu mengalir ke Kalimantan Selatan.

Untungnya, kebocoran kecil ditemukan. Ada pada surat-menyurat. Ternyata, selain surat jalan yang dikeluarkan kepala desa, peternak membutuhkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari dinas terkait untuk menjual ternak. Baik dijual di wilayah Barsel maupun ke Kalsel yang menjadi pasar utama. Syarat itu mutlak harus dilengkapi. Jika tidak, kerbau yang dijual dianggap ilegal. Jeleknya lagi, dianggap kerbau curian.

“Selama ini kita memang nggak mendapatkan surat itu dari dinas yang ada di Barsel. Hanya surat jalan dari kepala desa," ujar H Isran pemilik 175 ekor kerbau rawa.

Selama ini, transaksi tetap berjalan karena peternak mendapatkan SKKH di Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalsel. Lebih mudah, cepat dan efisien. Danau Panggang merupakan kecamatan yang berbatasan langsung dengan Jenamas. Jarak tempuh paling lambat 90 menit melalui jalur sungai. Jika menuju ke Ibu Kota Barsel, Buntok, menempuh waktu sampai tiga jam.

Untuk mendapatkan SKKH dihitung per ekor. Satu ekor kerbau rawa, peternak harus mengeluarkan biaya sebesar Rp15 ribu (2016) dan Rp20 ribu (2017) kepada Dinas Peternakan Hulu Sungai Utara.
Dalam setahun, peternak di Jenamas bisa menjual kerbau sampai 1.000 ekor. Jika dikalikan Rp15 ribu saja, sudah Rp15 juta. Belum lagi 1.000 dikalikan harga jual Rp23 juta, hasilnya mencapai Rp23.000.000.000.

Nominal itu memang jauh dibanding PAD yang diserap dari perusahaan tambang batu bara yang eksis di Kabupaten berjuluk Dahai Dahanai Tuntung Tulus itu. Para peternak menginginkan dinas terkait menempatkan petugasnya di Kecamatan Jenamas. Seperti yang pernah dirasakan 10 tahun silam. Peternak dengan mudah mendapatkan SKKH. Waktu itu masih Rp2.500 per ekor saja.

“Kita para peternak juga sedih melihat situasi seperti ini. Inginnya kita bisa berkontribusi buat daerah,” kata bapak berusia 56 tahun itu diamini peternak lainnya saat berbincang-bincang di pondok yang ada di tengah-tengah hamparan rawa.

Camat Jenamas, Haitani, mengungkapkan selama ini para peternak mendapatkan SKKH dari Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalsel. Masalah jarak tempuh ke Jenamas menuju Buntok menjadi kendala. Begitu juga tidak adanya petugas dari dinas terkait di kecamatan melayani surat-menyurat. Dengan kondisi seperti ini, menurutnya Pemkab Barsel tidak bisa menyerap PAD dari kerbau rawa.

“Kita sudah sering sampaikan ke dinas, tapi tidak ada tindak lanjutnya,” katanya.  (ram/c3/abe/nto)


BACA JUGA

Rabu, 22 November 2017 09:03
Melihat Pelayanan di Kantor Satpas Polres Lamandau

Sarana Lebih Komplit, Miliki Lapangan Uji Standar

Polres Lamandau kini memiliki Kantor pelayanan Satuan Pelaksana Administrasi (Satpas) Surat Izin Mengemudi…

Minggu, 19 November 2017 20:12

Melihat Mobil Perpustakaan Keliling Pemkab Bartim

Bentuknya cukup kuno, memanjang dengan warna putih polos. Berbagai perlengkapan seperti air conditioner…

Selasa, 14 November 2017 14:43
Enyu-enyu dan Tampahiring, Rumput untuk Pengobatan Tradisional

Tumbuhan Liar Ini Dipercaya Mampu Menyembuhkan Penyakit Ginjal

Cara pengobatan tradisional masih belum tergerus oleh kemajuan perkembangan zaman. Buktinya, meskipun…

Senin, 13 November 2017 07:31
Melihat Lebih Dekat Bangunan Relokasi Nelayan Ujung Pandaran

80 Rumah Siap Huni, Warga Masih Enggan Menempati

Hingga saat ini bangunan rumah yang dibangun oleh pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang…

Sabtu, 11 November 2017 07:47
Ketika Pelanggan Tidak Mau Bayar “Jasa Cinta”

Perempuan Bertato Ditusuk, Barang Berharga Dijarah

Seorang perempuan inisial ST (40) berlumuran darah di sekujur tubuhnya, perempuan bertato yang diduga…

Rabu, 08 November 2017 07:30
Ketika Warga Menagih Kompensasi Lahan Plasma

Portal Jalan Perusahaan, Polres Fasilitasi Mediasi

Persoalan antara perusahaan perkebunan dan masyarakat masih saja terjadi, seperti di Kabupaten Lamandau.…

Senin, 06 November 2017 10:55
Ketika Transportasi Sungai Mulai Hilang Ditelan Zaman

Drag Alkon dan Getek Menggairahkan Pariwisata Kobar

Seiring dengan perkembangan jaman, moda tansportasi sungai kini mulai ditinggalkan oleh sebagian masyarakat…

Sabtu, 04 November 2017 06:56
Ketika Pengguna Obat Terlarang Terjaring dalam Penggerebekan

Parah! Bandar Jualan Zenith Seperti Jual Sembako

Satuan Reserse Narkoba Polres Kotawaringin Timur (Kotim), tidak hanya membekuk bandar zenith atau obat…

Selasa, 31 Oktober 2017 07:01
Ketika Seorang Anggota TNI AD Jadi Korban KM Dharma Kencana II

Dokumen Ludes, Turun Pakai Tali, Dua Tangan Terluka

Perjalanan Kapal Motor Dharma Kencana II yang bertolak dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang tujuan Pontianak,…

Jumat, 27 Oktober 2017 09:30
Melihat Perkiraan BMKG Terkait Kondisi Cuaca di Kotim

Ada Titik Panas Terdeteksi, Hujan Es Bisa Terjadi Lagi

Kondisi cuaca di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan sekitarnya mengalami masa peralihan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .