MANAGED BY:
KAMIS
22 FEBRUARI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Jumat, 30 Juni 2017 17:46
LIPUTAN KHUSUS
Katanya Wisata Kerbau Rawa
Seorang peternak sedang mengawasi kerbau rawa di daerah Jenamas Kabupaten Barito Selatan (AGUS PECE/KALTENG POS)

PROKAL.CO, LEBIH dari 100 orang peternak menjaga populasi kerbau rawa hingga kini berjumlah sekitar 7.000 ekor. Bahkan Pemkab Barito Selatan (Barsel) tergiur membuat Kecamatan Jenamas menjadi kawasan wisata kerbau rawa (Bubalus bubalis).

Setiap tahun, muncul wacana hingga katanya wisata kerbau rawa akan dikembangkan. Nyatanya, mahal tak dapat dibeli dan murah tak dapat diminta. Peribahasa bilang sulit.

Kalteng Pos mencoba menelusuri lokasi budi daya kerbau rawa tersebut beberapa waktu lalu. Melihat respons masyarakat dan memberi gambaran di lokasi peternakan. Alih-alih mencoba menikmati yang katanya wisata.

Ibu Kota Kabupaten Barsel, Buntok, berjarak sekitar 175 Km dari Kota Palangka Raya. Dilanjutkan dari Buntok ke Kecamatan Jenamas hanya bisa melalui jalur sungai, sekitar 150 Km waktu tempuh sampai empat jam.

Petualangan semakin menantang. Speedboat berkapasitas 15 penumpang berangkat dari Pelabuhan Lama, Buntok, tepat pukul 08.12 WIB. Telat 12 menit dari jadwal keberangkatan. Alunan lagu ‘Akhirnya Ku Menemukanmu’ milik grub band Naff dan deru mesin 200 Pk siap menyusuri Sungai Barito, berebut masuk telinga.

Perkampungan terapung menjadi obat kantuk selama perjalanan. Hilir mudik tongkang batu bara terlihat setiap 15 menit. Sampai akhirnya speedboat berlabuh di Kelurahan Rantau Kujang. Warga sekitar meminta agar menemui H Isran sang peternak kerbau rawa. Pria 56 tahun itu bersedia menemani melihat lokasi yang katanya wisata kerbau rawa. Satu jam perjalanan ditempuh dengan menggunakan kelotok (perahu mesin). Melewati hamparan rawa luas.

Populasi kerbau rawa ada di Kelurahan Rantau Kujang; Desa Rangga Ilung, Rantau Bahuang, Tampulang dan Tabatan. Habitat kerbau rawa berkembang biak berupa padang rumput kumpai dengan luasan sekitar 30 km2. "Kalau kita melihat semuanya, nggak cukup waktu sehari," ucap H Isran tetap menjaga pandangannya lurus ke depan sembari tangannya mengendalikan kemudi.

Sesuai prediksi awal, kondisi rawa sedang banjir. Kanal-kanal eks Proyek Lahan Gambut (PLG) tak begitu terlihat. Beberapa kawanan kerbau rawa terlihat dari kejauhan. Saat mulai mendekat, mereka tampak asyik mencari makan. Ada juga yang bermanja-manja dengan anaknya. Burung jalak, menjadi teman setia yang tanpa malu hinggap di atas punggung kerbau.

Paket wisata lengkap. Flora dan fauna menyatu. Rawa, kerbau, padang rumput dan desiran angin memanjakan mata. Angin membawa aroma lumpur bercampur kotoran kerbau menyapa hidung.

Fakta unik lainnya, kerbau milik peternak satu dengan lain jarang sekali bergerombol mencari makan di tempat sama. Kalaupun bisa bersama, akhirnya akan kembali lagi ke kelompok asal. Penggembala tak kesulitan jika seekor kerbau tak kembali pulang atau ikut dengan gerombolan kerbau lain.

"Ada tanda bekas irisan di telinga yang sudah dibuat sejak lahir," kata H Isran.

Jika dalam kondisi banjir, kerbau-kerbau itu akan berenang dan menyelam saat mencari makan. Jenis makanan tersedia di rawa adalah padi hiyang kumpai dan beberapa jenis rumput. "Masa-masa sulit kita ketika memasuki kemarau, bisa kekurangan makanan," sebut bapak tiga anak yang sudah naik haji sebanyak tiga kali itu.

Kerbau rawa diternak dengan sistem kalang atau setengah liar. Dibiarkan berada di alam bebas pada siang hari. Memasuki senja, digiring masuk ke dalam kandang kayu seperti permanen di atas rawa. Setiap kandang bisa menampung lebih dari 100 ekor kerbau. Di setiap kandang, ada pondok kecil tempat penggembala kerbau melepas lelah.

Di hari itu, mereka berkeluh kesah. Soal wacana kawasan wisata, disambut baik oleh mereka. Meski ada rasa pesimistis menghantuinya. Selama ini, mereka tidak merasakan hadirnya pemerintah. Saran dan kritikan sering disampaikan. Mulai dari akses jalan raya, pendirian pasar ternak, masalah kesehatan ternak dan masalah pangan. Permasalahannya serba kompleks.

“Sulit sekali diperoleh. Padahal, akses jalan raya sangat berarti bagi masyarakat Jenamas,” sebut H Sar'i (50) pemilik 250 ekor kerbau rawa yang turut nimbrung dalam obrolan.

Akses jalan raya menuju Jenamas sebenarnya sudah ada upaya pemerintah yang mulai dirintis dari Kecamatan Pasar Panas. Namun pembangunan terhenti. Akses jalan sangat memungkinkan direalisasikan jika menghubungkan antara Kecamatan Jenamas dan Kecamatan Danau Panggang, yang masuk di Provinsi Kalsel. Alangkah baiknya kedua provinsi itu sepakat membangun jalan lintas kecamatan itu.(ram/c3/abe/nto)

 


BACA JUGA

Kamis, 22 Februari 2018 09:52
Menelusuri Bekas Kampung Etnis Tionghoa di Kobar (3/Habis)

Tak Diperhatikan, Tetap Jadi Magnet Wisata Sejarah

Keunikan bangunan tua yang berdiri sejak ratusan tahun silam, serta melihat keseharian warga keturunan…

Kamis, 22 Februari 2018 06:49
Menengok Prosesi Sidang BP4R di Mapolda Kalteng

Berawal dari Joget, Tumbuh Benih-benih Cinta

Wajib hukumnya bagi anggota Polri yang ingin menikah. Harus melewati sidang Badan Pembantu Penasihat…

Rabu, 21 Februari 2018 09:16
Melihat Eksotis Taman Hutan Raya Lapak Jarum yang Memesona

Tebing dan Gua Menambah Keindahan Flora dan Fauna

Bumi Habangkalan Penyang Karuhei Tatau menyimpan banyak pemandangan alam yang membelalakkan mata. Topografi…

Selasa, 20 Februari 2018 09:13
Menelusuri Bekas Kampung Etnis Tionghoa di Kobar (1)

Sudah Berdiri sejak Zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit

Bangunan tua bergaya China tradisional yang konon telah berdiri sejak ratusan tahun silam itu, merupakan…

Jumat, 16 Februari 2018 10:54
Fakta Persidangan Dugaan Pembakaran Tujuh Gedung SD

Modus Minta Sumbangan sambil Memetakan Sekolah

Sidang perkara dugaan pembakaran tujuh gedung SD di PN Jakarta Barat, terus berlanjut. Sidang sebelumnya,…

Kamis, 15 Februari 2018 09:36
Ketika Membuka Lahan dengan Cara Dibakar Dilarang

Ratusan Hektare Lokasi Pertanian Sebuai Barat Terbengkalai

Larangan membuka lahan dengan cara dibakar, ternyata berdampak cukup besar bagi masyarakat, karena selama…

Selasa, 13 Februari 2018 10:30

Jaringan Pipa Terbengkalai, Air Tak Mengalir

Berharap Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), dapat mengatasi kesulitan…

Sabtu, 10 Februari 2018 08:11
Melirik Bisnis Budi Daya Madu Kelulut di Kobar (2/Habis)

Satu Liter Bisa Mencapai Rp600 Ribu

Potensi usaha budi daya madu kelulut di Kabupaten Kotawaringin Barat, masih berpeluang besar untuk dikembangkan.…

Senin, 05 Februari 2018 12:52

Melihat Sepak Terjang Anggota Brimob Polda Kalteng di Tanah Papua (1)

Sebanyak 100 anggota Satbrimob Polda Kalteng menjalani tugas di Areal PT Freeport Indonesia, Distrik…

Minggu, 04 Februari 2018 08:12
Kisah Lima Hari Berburu Pemangsa Manusia

Tangkap Buaya dengan Umpan Itik dan Monyet

Perburuan buaya pemakan manusia di Desa Sebangau Jaya, Pulang Pisau, membuahkan hasil. Buaya yang diyakini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .