MANAGED BY:
JUMAT
22 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Jumat, 30 Juni 2017 17:46
LIPUTAN KHUSUS
Katanya Wisata Kerbau Rawa
Seorang peternak sedang mengawasi kerbau rawa di daerah Jenamas Kabupaten Barito Selatan (AGUS PECE/KALTENG POS)

PROKAL.CO, LEBIH dari 100 orang peternak menjaga populasi kerbau rawa hingga kini berjumlah sekitar 7.000 ekor. Bahkan Pemkab Barito Selatan (Barsel) tergiur membuat Kecamatan Jenamas menjadi kawasan wisata kerbau rawa (Bubalus bubalis).

Setiap tahun, muncul wacana hingga katanya wisata kerbau rawa akan dikembangkan. Nyatanya, mahal tak dapat dibeli dan murah tak dapat diminta. Peribahasa bilang sulit.

Kalteng Pos mencoba menelusuri lokasi budi daya kerbau rawa tersebut beberapa waktu lalu. Melihat respons masyarakat dan memberi gambaran di lokasi peternakan. Alih-alih mencoba menikmati yang katanya wisata.

Ibu Kota Kabupaten Barsel, Buntok, berjarak sekitar 175 Km dari Kota Palangka Raya. Dilanjutkan dari Buntok ke Kecamatan Jenamas hanya bisa melalui jalur sungai, sekitar 150 Km waktu tempuh sampai empat jam.

Petualangan semakin menantang. Speedboat berkapasitas 15 penumpang berangkat dari Pelabuhan Lama, Buntok, tepat pukul 08.12 WIB. Telat 12 menit dari jadwal keberangkatan. Alunan lagu ‘Akhirnya Ku Menemukanmu’ milik grub band Naff dan deru mesin 200 Pk siap menyusuri Sungai Barito, berebut masuk telinga.

Perkampungan terapung menjadi obat kantuk selama perjalanan. Hilir mudik tongkang batu bara terlihat setiap 15 menit. Sampai akhirnya speedboat berlabuh di Kelurahan Rantau Kujang. Warga sekitar meminta agar menemui H Isran sang peternak kerbau rawa. Pria 56 tahun itu bersedia menemani melihat lokasi yang katanya wisata kerbau rawa. Satu jam perjalanan ditempuh dengan menggunakan kelotok (perahu mesin). Melewati hamparan rawa luas.

Populasi kerbau rawa ada di Kelurahan Rantau Kujang; Desa Rangga Ilung, Rantau Bahuang, Tampulang dan Tabatan. Habitat kerbau rawa berkembang biak berupa padang rumput kumpai dengan luasan sekitar 30 km2. "Kalau kita melihat semuanya, nggak cukup waktu sehari," ucap H Isran tetap menjaga pandangannya lurus ke depan sembari tangannya mengendalikan kemudi.

Sesuai prediksi awal, kondisi rawa sedang banjir. Kanal-kanal eks Proyek Lahan Gambut (PLG) tak begitu terlihat. Beberapa kawanan kerbau rawa terlihat dari kejauhan. Saat mulai mendekat, mereka tampak asyik mencari makan. Ada juga yang bermanja-manja dengan anaknya. Burung jalak, menjadi teman setia yang tanpa malu hinggap di atas punggung kerbau.

Paket wisata lengkap. Flora dan fauna menyatu. Rawa, kerbau, padang rumput dan desiran angin memanjakan mata. Angin membawa aroma lumpur bercampur kotoran kerbau menyapa hidung.

Fakta unik lainnya, kerbau milik peternak satu dengan lain jarang sekali bergerombol mencari makan di tempat sama. Kalaupun bisa bersama, akhirnya akan kembali lagi ke kelompok asal. Penggembala tak kesulitan jika seekor kerbau tak kembali pulang atau ikut dengan gerombolan kerbau lain.

"Ada tanda bekas irisan di telinga yang sudah dibuat sejak lahir," kata H Isran.

Jika dalam kondisi banjir, kerbau-kerbau itu akan berenang dan menyelam saat mencari makan. Jenis makanan tersedia di rawa adalah padi hiyang kumpai dan beberapa jenis rumput. "Masa-masa sulit kita ketika memasuki kemarau, bisa kekurangan makanan," sebut bapak tiga anak yang sudah naik haji sebanyak tiga kali itu.

Kerbau rawa diternak dengan sistem kalang atau setengah liar. Dibiarkan berada di alam bebas pada siang hari. Memasuki senja, digiring masuk ke dalam kandang kayu seperti permanen di atas rawa. Setiap kandang bisa menampung lebih dari 100 ekor kerbau. Di setiap kandang, ada pondok kecil tempat penggembala kerbau melepas lelah.

Di hari itu, mereka berkeluh kesah. Soal wacana kawasan wisata, disambut baik oleh mereka. Meski ada rasa pesimistis menghantuinya. Selama ini, mereka tidak merasakan hadirnya pemerintah. Saran dan kritikan sering disampaikan. Mulai dari akses jalan raya, pendirian pasar ternak, masalah kesehatan ternak dan masalah pangan. Permasalahannya serba kompleks.

“Sulit sekali diperoleh. Padahal, akses jalan raya sangat berarti bagi masyarakat Jenamas,” sebut H Sar'i (50) pemilik 250 ekor kerbau rawa yang turut nimbrung dalam obrolan.

Akses jalan raya menuju Jenamas sebenarnya sudah ada upaya pemerintah yang mulai dirintis dari Kecamatan Pasar Panas. Namun pembangunan terhenti. Akses jalan sangat memungkinkan direalisasikan jika menghubungkan antara Kecamatan Jenamas dan Kecamatan Danau Panggang, yang masuk di Provinsi Kalsel. Alangkah baiknya kedua provinsi itu sepakat membangun jalan lintas kecamatan itu.(ram/c3/abe/nto)

 


BACA JUGA

Sabtu, 09 September 2017 07:04
Pariman, Pengidap Penyakit Misterius Pascaoperasi

Dada Membengkak, Tak Punya Biaya untuk Kemoterafi

Pariman sontak menjadi perhatian dan keprihatinan dari masyarakat Kota Nanga Bulik, karena harus menahan…

Minggu, 03 September 2017 21:56
Sukarman, Tiga Tahun Derita Kanker Darah

Sudah 25 Kali Masuk Rumah Sakit, Dirujuk ke Banjarmasin Tidak Punya Biaya

Sukarman (54) hanya bisa terbaring di dalam rumah berukuran 4x6 milik Anjeng Kartini seorang warga di…

Sabtu, 02 September 2017 01:41
Rinco Norkim Berpulang

Selamat Jalan “Sang Penjaga Hutan”

  DI TENGAH kekhidmatan merayakan Hari Raya Iduladha, kabar duka juga tiba-tiba terdengar menjelang…

Selasa, 22 Agustus 2017 06:56
Cara Polres Kobar Mencegah Karhutla di Bumi Marunting Batu Aji

Sebarkan Maklumat Kapolda Sampai ke Desa Terpencil

Polres Kotawaringin Barat (Kobar) begitu intens menjaga daerah berjuluk Bumi Marunting Batu Aji dari…

Kamis, 17 Agustus 2017 21:07

Oleh-oleh dari menuntut Ilmu di Negeri Matahari, Jepang (11)

Banyak alasan orang dewasa di Jepang menunda perkawinan. Bahkan terkesan momok bagi mereka yang ingin…

Rabu, 16 Agustus 2017 07:02
Yang Dilakukan Sakariyas di Hari Pertama Menjabat Bupati Katingan

Kumpulkan Semua Pegawai dan Tokoh Masyarakat

Sakariyas resmi menjadi orang nomor satu di Kabupaten Katingan, Jumat (11/8) lalu, namun kesibukannya…

Rabu, 16 Agustus 2017 00:50
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (7)

Pekerja Dilarang Telat, Transportasi Harus Sesuai Perjanjian

Teraturnya lalu lintas di Jepang membuat kagum banyak orang, termasuk rombongan Kalteng Pos Group. Jalan…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:58
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (6)

Hachiko Anjing Setia Terkenal setelah Masuk Koran

Hachiko tak kenal menyerah untuk menemukan majikannya. Si anjing itu tetap setia menunggu Profesor Ueno…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:53
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (5)

Anjing Hachiko Sembilan Tahun Menunggu Tuannya

Berkunjung ke Jepang rasanya kurang lengkap sebelum mengunjungi Patung Hachiko. Patung itu dibuat untuk…

Selasa, 15 Agustus 2017 06:24
Slamet, Seniman Berbakat dari Lapas Klas IIB Pangkalan Bun

Lukisan Bupati Jadi Kado di Hari Kemerdekaan

Selama menjalani sepertiga masa hukuman, sudah sederet lukisan lahir dari tangan seniman Slamet Wisnu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .