MANAGED BY:
JUMAT
24 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Rabu, 21 Juni 2017 22:52
RENUNGAN RAMADAN
Mendidik Anak

Oleh: Dr Hj Hamdanah MAg

Dr Hj Hamdanah MAg

PROKAL.CO, ANAK dalam keluarga adalah buah hati belahan jiwa. Untuk anak orangtua bekerja memeras keringat membanting tulang. Anak merupakan harapan utama bagi sebuah mahligai perkawinan.

Keberadaan anak adalah wujud keberlangsungan sebuah keluarga, keturunan dan bangsa setelah agama. Namun perlu diingat anak adalah karunia Allàh.

MAKNA KELUARGA BAGI ANAK

Secara sosiologis keluarga merupakan golongan masyarakat terkecil yang terdiri atas suami-isteri-anak. Pengertian demikian mengandung dimensi hubungan darah dan juga hubungan sosial.

Dalam hubungan darah keluarga bisa dibedakan menjadi keluarga besar dan keluarga inti.

Sedangkan dalam dimensi sosial, keluarga merupakan suatu kesatuan sosial yang diikat adanya saling berhubungan atau interaksi dan saling mempengaruhi, sekalipun antara satu dengan lainnya tidak terdapat hubungan darah.

Pengertian keluarga dapat ditinjau dari perspektif psikologis dan sosiologis (Moh. Shochib ; 2000 : 17). Secara Psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi, saling memperhatikan, dan saling menyerahkan diri. Sedangkan pengertian secara sosiologis, keluarga adalah satu persekutuan hidup yang dijalin oleh kasih sayang antara pasangan dua jenis manusia yang dikukuhkan dengan pernikahan, dengan maksud untuk saling menyempurnakan diri, saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

Begitulah kehidupan dalam sebuah  rumah tangga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang sangat diperlukan adalah dialog atau komunikasi dalam keluarga, sehingga si anak pun merasa disayang, dihargai dan merasa aman, tentaram  dalam sebuah rumah tangga.

Keluarga yang seimbang adalah keluarga yang ditandai oleh adanya keharmonisan hubungan atau relasi antara ayah dan ibu serta anak-anak dengan saling menghormati dan saling memberi tanpa harus diminta.

Pada saat ini orang tua berprilaku proaktif dan sebagai pengawas tertinggi yang lebih menekankan pada tugas dan saling menyadari perasaan satu sama lainnya. Sikap orang tua lebih banyak pada upaya memberi dukungan, perhatian, dan garis-garis pedoman sebagai rujukan setiap kegiatan anak dengan diiringi contoh teladan, secara praktis anak harus mendapatkan bimbingan, asuhan, arahan serta pendidikan dari orang tuanya, sehingga dapat mengantarkan seorang anak menjadi berkepribadian yang sejati sesuai dengan ajaran agama yang diberikan kepadanya.

Lingkungan keluarga sangat menentukan berhasil tidaknya proses pendidikan, sebab disinilah anak pertama kali menerima sejumlah nilai pendidikan.

Tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan oleh orang tua dirasakan oleh anak dan akan menjadi dasar peniruan dan identifikasi diri untuk berperilaku. Nilai moral yang ditanamkan sebagai landasan utama bagi anak pertama kali diterimanya dari orang tua, dan juga tidak kalah pentingnya komunikasi dialogis sangat diperlukan oleh anak untuk memahami berbagai persoalan-persoalan yang tentunya dalam tingkatan rasional, yang dapat melahirkan kesadaran diri untuk senantiasa berprilaku taat terhadap nilai moral dan agama yang sudah digariskan.

Sentralisasi nilai-nilai agama dalam proses internalisasi pendidikan agama pada anak mutlak dijadikan sebagai sumber pertama dan sandaran utama dalam mengartikulasikan nilai-nilai moral agama yang dijabarkan dalam kehidupan kesehariannya. Nilai-nilai agama sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan keluarga, agama yang ditanamkan oleh orang tua sejak kecil kepada anak akan membawa dampak besar dimasa dewasanya, karena nilai-nilai agama yang diberikan mencerminkan disiplin diri yang bernuansa agamis.

Di dalam keluarga, kebutuhan pribadi anak seperti yang disampaikan oleh Abraham Maslow juga berlangsung. Pada tahap awal, anak memerlukan kebutuhan dasar seperti makan dan minum, kemudian meningkat kepada kebutuhan akan kasih sayang dan penghargaan, lalu meningkat lagi menjadi kebutuhan terhadap keamanan dan kesehatan serta pada waktunya anak memerlukan self actualization (mencari pemaknaan terhadap siapa dirinya).

Keluarga juga berperan menjadi benteng pertahanan dari sejumlah pengaruh yang datang dari luar. Tidak jarang anak menanyakan sesuatu problem yang datang dari luar yang dia sendiri tidak canggung untuk menjawab atau mengatasinya. Karena itu, rujukan utama anak adalah keluarga. Di sinilah diperlukan hadirnya sosok orang tua yang bijaksana dan memiliki wawasan yang cukup untuk menerangkan kepada anak tentang apa yang dihadapinya. Dengan demikian, anak tidak mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang dapat menyesatkan dirinya.

MENDIDIK ANAK DENGAN KASIH SAYANG

Manusia hidup memang untuk mencari bahagia. Ajaran Islam juga diturunkan untuk menyempurnakan makna bahagia. Kehidupan rumah tangga adalah karunia, karena di situ bisa tercipta ketenteraman, cinta, dan kasih sayang. Karenanya, orang yang menikah bolehlah berkeyakinan bahwa ia tengah menyongsong bahagia.
Bahagia, tetaplah bahagia. Siapapun berhak mengejarnya.

Cinta adalah seperti benda hidup yang perlu dirawat dan dipelihara. Cinta dan kasih sayang bisa tetap membuat hidup semakin indah selama masing-masing individu  berusaha untuk memeliharanya. Jika cinta dibiarkan maka akan menjadi lemah, kering dan layu dan bahkan kemudian akan menjadi mati, hal itu diibaratkan  sebuah  pohon/ tanaman tanpa siraman air, tentu akan mati.

Para pakar psikologi mengatakan bahwa cinta adalah bentuk komitmen yang mendalam. Cinta adalah kekuatan spiritual terkuat di alam semesta ini. Lebih lanjut Imam Qodli “Iyayadl Al-Yakhsubi berpendapat bahwa Cinta adalah selalu menyebut kepada apa yang dicintai, Cinta adalah rindu kepada apa yang dicintai, Cinta adalah mendahulukan apa yang dicintai.

Kasih   sayang yang diberikan orang tua kepada anak merupakan komponen dasar yang utama dalam proses pendidikan dan pembentukan karakter atau akhlak anak. Sebagai contoh seorang guru yang memiliki rasa kasih sayang yang besar akan sangat mencintai profesinya dibandingkan dengan seorang guru yang lebih berorientasi terhadap uang.

Demikian juga murid yang dididik dengan rasa kasih sayang akan merasa betah dan lebih cepat mengerti dan memahami pelajaran yang disampaikan kepadanya.

Orangtua yang selalu  mendidik anak-anaknya dengan rasa cinta dan kasih sayang akan membuat suasana belajar dalam rumah tangga menjadi sangat menyenangkan bagi anak. Anak tidak pernah bosan untuk meyerap setiap pelajaran yang diberikan. Karena tidak ada cara yang lebih baik untuk menawan hati anak dan memenangkan kepercayaannya selain dari mengembangkan rasa cinta dan kasih sayang oleh orang tuanya.

Mendidik anak dengan cinta, tidaklah mudah maka diperlukan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Namun bukan berarti dengan kesulitan itu, lantas kita sebagai orang tua seenaknya saja. Namun ada keinginan untuk berusaha mendidik dan mengajarkan anak dengan cita dan kasih sayang yang besar.

Anak yang kita miliki adalah sangat berharga, namun janganlah kita lupa bahwa anak juga merupakan ujian dari Allah SWT (Lihat surah Al –Anfal ayat 28) sbb ;

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar”.  Orang tua nantinya akan mempertanggungjawabkan semua yang dilakukan di akhirat kelak, termasuk bagaimana kita merawat dan membesarkan anak-anak kita, sebab orang tua merupakan guru yang pertama dan utama bagi anak-anak yang sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian dan moral seorang anak.

 Ketika kita memberikan cinta dengan segenap raga dan jiwa, merekapun akan mencintai kita sepenuh hatinya. Ketika anak telah mencintai orang tuanya, maka proses komunikasi itu akan berjalan dengan baik dan harmonis. Apabila kenyamanan berkomunikasi itu terjalin maka dia akan berkomunikasi dengan orangtuanya sendiri ketimbang orang lain.

Dengan  cinta dan kasih sayang suasana rumah akan menjadi tempat yang sangat menyenangkan bagi anak dan seluruh penghuninya. Sehingga rumah menjadi tempat tinggal dan berkumpulnya seluruh kegembiraan, kedamaian dan kesopanan. Rumah yang dipenuhi dengan sinar cinta dan kasih sayang akan menjadi tempat kejujuran,  kebaikan dan kebahagiaan. Dengan memperhatikan penuh  terhadap anak-anak kita, ada kontak batin antara anak dan orang tuanya. Kemajuan teknologi saat ini, bisa mempermudah komunikasi antara orang tua dan anak. Intinya, jangan pernah lewatkan kesempatan emas memperhatikan gerak-gerik mereka, apalagi ketika memasuki masa remaja. Jadi sebagai Rahasia utama mendidik dengan cinta adalah berusahalah untuk dicintai oleh mereka bukan hanya mencintai mereka. (*/nto)


BACA JUGA

Rabu, 01 November 2017 14:49
Happy Monday

“PAD Haram”

SEBULAN yang lalu, tepatnya 28 September 2017, sebanyak 47 wartawan di Kalteng mengikuti Uji Kompetensi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .