MANAGED BY:
JUMAT
24 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Selasa, 20 Juni 2017 15:08
Efek Medsos

Oleh: Sugeng Winarno*

Sugeng Winarno

PROKAL.CO, MUNCULNYA kasus persekusi di medsos ini sebenarnya sudah cukup lama. Bermula sejak persidangan kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan terus bergulir hingga sekarang.

Tindakan persekusi memperoleh momentum sejak vonis penistaan agama dijatuhkan kepada Ahok. Sejumlah ormas yang mendorong kasus itu pun merasa tindakannya turun ke jalan mendapat dukungan. Sejak itu, persekusi masif bermunculan di beberapa daerah di Indonesia.

Seperti sudah ramai diberitakan media, korban persekusi ini sudah banyak berjatuhan. Selama Januari hingga Mei 2017, setidaknya ada 59 orang yang diburu beberapa ormas. Masifnya pemburuan liar ini dipicu tidak saja karena lambannya aparat menangani persoalan ini, tetapi juga aparat telah melakukan pembiaran terhadap kasus ini. Para pelaku persekusi memperoleh ruang yang leluasa dalam menjalankan aksinya.

Menurut laporan Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safe Net) 2017, pada Januari terjadi persekusi di empat lokasi di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Pada Maret, kasus persekusi di tiga pulau itu meningkat menjadi enam kasus.

Memasuki April, persekusi meluas dari Sumatera hingga Sulawesi dengan delapan kasus. Mei, kasus melonjak jadi 36 kasus dan tersebar dari Sumatera hingga Sulawesi.

Persekusi juga menyasar anak-anak dan remaja. Di Jakarta Timur, seorang anak berusia 15 tahun juga diintimidasi. Video intimidasi itu telah tersebar luas di medsos hingga menimbulkan keresahan di masyarakat. Korban kasus ini sepertinya akan terus bermunculan di beberapa daerah. Upaya penanganan persoalan ini harus dilakukan dengan cepat sebelum korban semakin banyak.

Dalam penanganan kasus ini, seperti ada kerancuan melihat persoalan ini. Di satu pihak, ada yang menganggap bahwa persekusi sebagai sebuah tindakan yang cukup beralasan. Di sisi lain, cara-cara main hakim sendiri dengan melakukan sweeping dan perburuan terhadap pengguna medsos jelas melanggar hukum. Idealnya, semua harus merujuk pada mekanisme hukum terkait penyelesaian persoalan ini.

Seperti dalam penanganan korban yang menimpa Dokter Fiera Lovita asal Solok, Sumatera Utara. Ibu ini diburu sekelompok orang karena dinilai menyinggung pimpinan ormas tertentu gara-gara status di medsosnya. Setelah melapor ke Polsek Kota Solok, justru Fiera tidak mendapat solusi. Fiera malah didorong untuk meminta maaf kepada umat muslim dan diminta tidak mengulangi perbuatan yang sama.

Kalau memang si penulis status yang dinilai keliru, mekanismenya tentu harus diproses sebagai pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), bukan main hakim sendiri. Tindakan mendatangi rumah korban, mengambil kemerdekaannya, mengintimidasi, sampai penganiayaan tentu tidak dibenarkan secara hukum. Untuk itu, persoalan ini harus dipilah dan diselesaikan dengan adil.

Pengaruh Medsos

Medsos yang idealnya hadir sebagai sarana memperbaiki hubungan sosial justru menjadi asosial. Medsos justru menjadi sarana perpecahan sosial. Fitnah dan adu domba bermula di medsos dan tidak jarang menimbulkan konflik sosial. Ujaran kebencian antara kelompok satu dengan yang lain tumbuh subur difasilitasi medsos. Kata sosial di belakang kata media tidak lagi menyatu menjadi sebuah arti yang sebangun. Banyak fakta justru menguatkan pernyataan bahwa medsos justru menjadi media asosial.

Hubungan sosial di antara orang yang berinteraksi melalui medsos tidak lagi berjalan dalam prinsip-prinsip relasi sosial yang saling menguntungkan. Interaksi sosial justru dibangun dengan prasangka, saling curiga, hingga memecah belah. Hubungan sosial yang dimediasi medsos justru menjadikan relasi yang jauh dari sosial (asosial). Relasi sosial yang dibangun medsos justru tidak mendukung terjadinya ikatan sosial yang kuat, tetapi justru sebaliknya.

Degradasi hubungan sosial tumbuh subur lewat media yang idealnya menjadi kohesi sosial. Medsos telah menjadi sarana penyebaran berita bohong hingga timbul kegaduhan dan bikin runyam suasana.

Sebenarnya medsos hanyalah sebuah alat. Penggunaannya sangat bergantung pada siapa yang memakai media ini (people behind the media). Untuk itu, pengguna harus memahami media (media literate), pemerintah juga harus melakukan pengaturan dan penegakan hukum atas segala pelanggaran melalui media ini.

Jaringan sosial yang terbentuk di medsos melalui perangkat internet. Internet hadir tidak sekadar sebagai alat (tools), tetapi internet juga memberikan kontribusi terhadap munculnya ikatan sosial, nilai-nilai, dan struktur sosial secara online. Manuel Castells (2002) mengatakan bahwa “The network is the message, and the internet is the messenger.”

Namun, dalam perjalanan hubungan antarmanusia tersebut, medsos juga menyebarkan pengaruh yang luar biasa. Kalau konten positif, tentu tidak ada yang perlu dirisaukan. Namun, bagaimana dengan munculnya kebohongan, ujaran kebencian, fitnah, tipu-tipu, upaya pecah belah, dan disintegrasi bangsa. Semua ini tentu tidak bisa dibenarkan. Kalau ini yang terjadi, medsos benar-benar harus dilawan, bukan berdamai dan menjadikannya kawan. (*)

 

*) Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang


BACA JUGA

Rabu, 01 November 2017 14:49
Happy Monday

“PAD Haram”

SEBULAN yang lalu, tepatnya 28 September 2017, sebanyak 47 wartawan di Kalteng mengikuti Uji Kompetensi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .