MANAGED BY:
JUMAT
18 AGUSTUS
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Sabtu, 17 Juni 2017 14:37
Bung Karno dan Prinsip Ketuhanan

Oleh: Sutia Budi

Ir Soekarno

PROKAL.CO, MEMASUKI pertengahan Juni, bulan ini sering disebut sebagai Bulan Bung Karno. Bulan di mana Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901 dan pada 21 Juni 1970 menghadap Sang Khaliq.

Tulisan singkat ini akan mengulas tentang pergumulan Bung Karno dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila Pertama Pancasila. Sebagaimana kita ketahui bahwa prinsip Ketuhanan dicetuskan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, itu berada pada urutan kelima, namun setelah kembali dirumuskan oleh Panitia Sembilan, yang juga Bung Karno berada di dalamnya, berubahlah menjadi Sila Pertama Pancasila.

Tentang prinsip Ketuhanan, pada pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menegaskan: "... Marilah kita di dalam Indonesia yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan bahwa prinsip ke-5 daripada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!".

Kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa itu telah dilontarkan Bung Karno pada 1 Juni 1945. Kemudian berubah pada 22 Juni 1945 (lahir Piagam Jakarta). Setelah muncul adanya keberatan, Bung Karno segera menghubungi Bung Hatta, lalu dialog mendalam dengan tokoh-tokoh Islam (Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Teuku Moh Hasan), pada 17 Agustus 1945 diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" demi kesatuan Indonesia.

Negara Indonesia yang berprinsip Ketuhanan dalam pandangan Bung Karno, juga diartikan sebagai negara yang setiap warganya dapat menyembah Tuhan-nya dengan cara leluasa. Sementara bertuhan secara kebudayaan, dimaknai dengan tiada "egoisme-agama". Bung Karno juga mengajak untuk mengamalkan dan menjalankan ajaran agama masing-masing, dengan cara yang berkeadaban, yaitu hormat-menghormati satu sama lain.

Bisa dibayangkan, jika The Founding Father Indonesia tidak berpikir negarawan, apa jadinya Indonesia di kemudian hari? Namun nyatanya, dengan kejernihan berpikir dan kedewasaan membaca realita, para pendahulu itu “melepaskan ego-nya” hingga hari ini kita masih bisa menikmati Persatuan Indonesia. Lahir batin kita bisa “mesra” dari Sabang sampai Merauke.

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah kata-kata yang bisa diterima oleh semua agama, semua golongan waktu itu, hingga hari ini, dan Insya Allah sampai kapan pun. Seluruh warga bangsa meyakini bahwa Tuhan itu Esa, tentu menurut agama dan kepercayaannya masing-masing. Dalam Pasal 29 UUD 1945 ditegaskan; 1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Bagi umat Islam, landasan Sila Pertama Pancasila sangat jelas sesuai dengan Al-Qur’an surat Al-Ikhlas ayat 1-4 , yang artinya “1). Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. 2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. 4). dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

Dalam Tafsir Al-Azhar, Ayat 1 Surat Al-Ikhlas, Buya Hamka menyatakan bahwa Inilah pokok pangkal akidah, puncak dari kepercayaan. Mengakui bahwa yang dipertuhan itu Allah nama-Nya. Dan itu adalah nama dari Satu saja. Tidak ada Tuhan selain Dia. Dia Maha Esa, mutlak Esa, tunggal, tidak bersekutu yang lain dengan Dia. Pengakuan atas Kesatuan, atau Keesaan, atau tunggal-Nya Tuhan dan nama-Nya ialah Allah, kepercayaan itulah yang dinamai Tauhid. Berarti menyusun fikiran yang suci murni, tulus ikhlas bahwa tidak mungkin Tuhan itu lebih dari satu. Sebab pusat kepercayaan di dalam pertimbangan akal yang sihat dan berfikir teratur hanya sampai kepada Satu.

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah sumber sandaran gerak laku dan langkah. Sebagai hamba Tuhan, kesadaran bahwa Tuhan itu Esa, seyogianya memunculkan kesadaran yang sesadar-sadarnya bahwa manusia itu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tidak akan ke mana-mana. Maka gerak laku lampah kita, seluruhnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Khalik. Baik dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan manusia dan alam semesta. Tidak terkecuali.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang faktanya dihadapkan pada keragaman etnis, agama, golongan, maupun budaya, maka menghormati orang lain yang berbeda adalah pancaran nilai-nilai Ketuhanan. Karena pada dasarnya dan senyatanya, semua yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan-Nya. Keharmonisan hubungan antar manusia, antar warga negara, tentu jangan berhenti pada tataran lahiriah semata, namun harus menusuk sampai ke batin. Nilai-nilai Ketuhanan harus memancar dalam seluruh aspek kehidupan.

Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa yang dipahami sudut Islam sebagai Tauhid, adalah sebagai dasar moral sedangkan tujuannya adalah Keadilan Sosial. Membaca pendapat Cak Nur, maka dapat dimaknai bahwa jika yang terjadi “Ketidakadilan Sosial” maka sesungguhnya “belum bertuhan” secara benar. Karena Tuhan itu Maha Adil.

Pada sisi lain, Yudi Latif (2011) berpendapat bahwa makna Ketuhanan Yang Maha Esa ialah ketuhanan yang tidak hanya mengusahakan kehidupan bersama yang lebih baik melalui pancaran cahaya agama, namun sekaligus juga penghormatan terhadap eksistensi agama-agama yang lain.

Ahmad Tafsir (1982) menyatakan bahwa sesungguhnya Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah core Pancasila. Atas dasar itulah, Maneger Nasution (2015) menegaskan bahwa bila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah core Pancasila, (dan memang ya), maka seluruh turunannya (UUD 1945, UU, PP, SKM, JUKNIS) haruslah menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai core.

Beberapa pandangan di atas tentu buah dari pengkhidmatan yang mendalam atas “tafsir” Pancasila, khususnya sila pertama yang menjadi “titik berangkat” bagi sila-sila selanjutnya. Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi penerang bagi terciptanya kehidupan kemanusiaan yang penuh keadaban, juga kehidupan yang “menyatu” dalam bingkai Indonesia, bagi pemufakatan kebajikan, dan terwujudnya keadilan sosial. Jiwa Pancasila akan melahirkan hikmah dan kebijaksanaan. Jiwa ini pun tak akan berhenti berjuang untuk menggapai keadilan sosial.       

Dalam sebuah kursus Pancasila tentang Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Bung Karno memberikan kalimat penutup,  “... Dan formulering Tuhan Yang Esa bisa diterima oleh semua golongan agama di Indonesia ini. Kalau kita mengecualikan elemen agama ini, kita membuang salah satu elemen yang bisa mempersatukan batin bangsa Indonesia dengan cara yang semesra-mesranya. Kalau tidak memasukkan sila ini, kita kehilangan salah satu Leidstar yang utama, sebab kepercayaan kita kepada Tuhan ini bahkan itulah menjadi Leidstar yang utama, untuk menjadi satu bangsa yang mengejar kebajikan, satu Leidstar dinamis menuntut kepada kita supaya elemen Ketuhanan ini dimasukkan. Dan itulah sebabnya maka di dalam Pancasila elemen Ketuhanan ini dimasukan dengan nyata dan tegas.”

Bung Karno menempatkan Ketuhanan sebagai Leidstar, Bintang Pemimpin. Jika sila Ketuhanan diabaikan, ditiadakan, maka hilanglah Pancaran Utama itu. Kepercayaan kepada Tuhan, tiada lain hanya untuk mengejar kebajikan, untuk menemukan keutamaan.
Bung Karno dan para pendahulu negeri ini berpikir jauh ke depan, menembus batas keraguan, dengan tegas membalut-mengikat sila-sila Pancasila dengan nilai-nilai Ketuhanan. Atas dasar itulah, maka tiada tempat di Indonesia bagi warga bangsa yang dirinya mengaku tidak bertuhan!

 

*) Wakil Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta, Direktur Riset Global Base Review, Fungsionaris FOKAL IMM


BACA JUGA

Minggu, 13 Agustus 2017 00:35

Kalau Mau Anak Hebat, Orang Tua Harus Berubah!

SAYA sebenarnya sangat tertarik pada cerita dosen Unair yang sayang saya tak tahu namanya. Di beberapa…

Kamis, 10 Agustus 2017 12:40

Mencari Glue Guy

PADA 2009 saya belajar. Orang paling berharga belum tentu yang paling pintar, paling cepat, atau paling…

Selasa, 01 Agustus 2017 10:03

Urgensi Fasilitas Jabatan Hakim

PERSOALAN penegakan hukum tidak terlepas dari peran hakim sebagai ujung tombak penegakan hukum di Indonesia.…

Rabu, 26 Juli 2017 15:28

Si Tou Timou Tumou Tou

KALAU anda baru pertama kali ke Manado dan masuk melalui bandar udara Sam Ratulangi, di sekitar bandara,…

Rabu, 28 Juni 2017 14:05

Stigmasisasi

JURUS stigmasisasi dilancarkan terhadap para warga yang akan digusur sebagai warga liar, kaum kriminal…

Rabu, 21 Juni 2017 22:52
RENUNGAN RAMADAN

Mendidik Anak

ANAK dalam keluarga adalah buah hati belahan jiwa. Untuk anak orangtua bekerja memeras keringat membanting…

Selasa, 20 Juni 2017 15:08

Efek Medsos

MUNCULNYA kasus persekusi di medsos ini sebenarnya sudah cukup lama. Bermula sejak persidangan kasus…

Minggu, 18 Juni 2017 12:54
RENUNGAN RAMADAN

Ibadah di 10 Hari Terakhir Ramadan

KITA telah melewati sebagian besar dari hari-hari Ramadan. Sekarang kita telah memasuki sepuluh hari…

Sabtu, 17 Juni 2017 14:37

Bung Karno dan Prinsip Ketuhanan

MEMASUKI pertengahan Juni, bulan ini sering disebut sebagai Bulan Bung Karno. Bulan di mana Bung Karno…

Jumat, 16 Juni 2017 16:18

Plagiarisme: Noktah Hitam dalam Dunia Literasi

KASAK-kusuk mengenai plagiarisme yang dilakukan oleh Afi, seleb sosial media yang terkenal lewat tulisan-tulisannya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .