MANAGED BY:
KAMIS
19 OKTOBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Jumat, 16 Juni 2017 16:18
Plagiarisme: Noktah Hitam dalam Dunia Literasi

Oleh: Dinna F Norris *

Dinna F Norris

PROKAL.CO, KASAK-kusuk mengenai plagiarisme yang dilakukan oleh Afi, seleb sosial media yang terkenal lewat tulisan-tulisannya yang konon cerdas dan memantik decak kagum dari banyak kalangan akhirnya terjawab sudah.

Afi sendiri sudah memberikan keterangan dalam bentuk postingan di akun sosial medianya, dan Mita Handayani, pemilik sebenar dari tulisan tersebut juga telah membuat pernyataan lewat akun facebooknya. Bahwa tulisan yang berjudul Agama Kasih memang benar adanya merupakan buah pikiran Mita yang ia tuangkan dalam jejaring sosial media persis setahun lalu, Juni 2016.

Lantas tulisan tersebut dimodifikasi dengan sangat persis oleh Asa Firda Inayah atau yang biasa disapa Afi Nihaya Paradisa, dan diberi judul Belas Kasih Dalam Agama Kita. Hingga kemudian tulisan yang tadinya viral itu menjadi semakin populer dan menghebohkan jagad maya akibat plagiarisme yang dilakukan Afi.

Skandal plagiarisme bukan merupakan perkara baru di belahan bumi ini. Praktik lancung tersebut telah ada sejak zaman di mana orang-orang masih menggunakan mesin ketik untuk menulis. Salah satunya yang cukup mengagetkan adalah kasus Anggito Abimayu, seorang akademisi UGM yang juga seorang staf kepresidenan ditengarai telah memplagiat tulisan Hotbonar Sinaga dan Munawar Kasan yang sebelumnya lebih dulu dimuat di rubrik opini Kompas edisi 12 Juli 2006 dengan judul Menggagas Asuransi Bencana.

Anggito menolak tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa tulisan yang terbit di Kompas edisi 10 Februari 2010 dengan judul Gagasan Asuransi Bencana adalah murni hasil tulisannya. Ia juga mengatakan telah terjadi kesalahan pengutipan referensi dalam sebuah folder di komputer pribadinya. Meski demikian, saat konferensi pers di UGM, dengan legowo Anggito meminta maaf dan memilih mundur dari jabatannya sebagai akademisi UGM

Selanjutnya plagiarisme yang terjadi beberapa bulan lalu yang menerpa Nanda Diani, mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di kota Medan. Parahnya, tulisan-tulisan Nanda terbit dalam bentuk buku tunggal, beberapa antologi, dimuat di berbagai surat kabar nasional, hingga memenangkan banyak perlombaan. Sama seperti Afi, cukup sering juga Nanda didapuk menjadi pembicara seputar dunia kepenulisan dan didaulat menjadi juri dalam lomba tulis menulis. Bedanya, Afi sempat tampil pada berbagai program bergengsi di televisi, di Universitas, serta diundang ke Istana bertemu Jokowi, sementara Nanda, hadir sebagai pembicara di sekolah-sekolah.

Masih ada, dan masih banyak plagiator di negeri ini baik yang sudah terungkap maupun yang masih berpraktik secara sembunyi-sembunyi. Mereka yang aksinya pernah tertangkap basah oleh publik dapat anda temukan melalui mesin pencarian Google, sementara sisanya larut dalam hingar bingar pujian dan kemabukan ketenaran, hingga suatu saat momen memerangkap mereka dan menyibak tirai kecurangan dengan cara paling mengerikan. Namun sebelum itu terjadi mereka akan terus menulis, barangkali karya mereka sedang kita baca, masih kita nikmati.

Tapi apa yang terjadi pada para plagiator yang kecurangannya tersibak di ruang publik? Langkah pertama mereka akan menghindar, mengelak, dan tidak mengakui telah melakukan kecurangan. Kedua, melakukan playing victim dengan mengaku telah dizalimi oleh para haters dan manusia-manusia yang hasad dengan ‘kesuksesannya’. Ketiga, mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak memplagiat, tidak mengcopy, melainkan terinspirasi. Keempat, memberikan statement apologi yakni: “jangan lihat siapa yang menyampaikan tapi lihat apa yang disampaikan” atau “semua orang pernah melakukan plagiarisme” atau “saya sudah berbuat yang terbaik demi bangsa ini”. Kelima, menganulir idiom ‘tak ada yang baru di bawah matahari’, karena itu segala sesuatu bisa sama, bisa jadi mirip bahkan persis. Keenam, tetap membantah telah melakukan plagiarisme sembari menyerang balik orang yang mengkritiknya. Dan terakhir, cooling down sembari melenggang dibawah hujan kritik, berlalu di tengah ramai sorotan dengan rasa percaya diri yang tinggi.

Lantas, bagaimana dengan plagiarisme? Sama seperti yang telah sudah, plagiarisme menguap begitu saja laksana debu ditiup angin. Rupanya bagi (sebagian besar?) masyarakat kita plagiarisme bukan bagian dari kejahatan. Ditambah lagi komentar Reynald Kasali di harian Kompas edisi 1 Juni 2017 dengan judul Benarkah Afi Melakukan Plagiarisme?, telah mempersempit sekaligus mengaburkan makna plagiarisme, yang secara tak langsung melegalkan praktek jiplak menjiplak ini.

Itu sebabnya jejak plagiarisme acap kali memudar, raib, lambat laun dilupakan. Para plagiator memang dihujat, aksinya juga dikritik, ramai-ramai dibantai dan dikutuk. Tapi beberapa hari setelahnya kasus itu surut, menghilang dari permukaan. Mungkin karena itu literasi kita tumpul, penulis kita kehilangan kreatifitas dan orisinalitas karena terlena dengan sesuatu yang instan.

Linah al Hamshi pernah mengatakan bahwa turunnya minat baca seseorang tidak selalu berkaitan dengan kondisi individunya akan tetapi masalah utamanya ada pada kapasitas orang yang terjun ke dunia kepenulisan. Saya tak hendak bergegas mengamini, namun ketika melihat maraknya praktek plagiarisme dewasa ini membuat saya mau tidak mau memilih setuju tanpa tapi. “mereka tidak punya kesungguhan dan kompetensi melahirkan tulisan yang menggerakkan hati dan pikiran” tulis beliau pada lembar pengantar penerbit dalam buku Yuhka Anna  yang ditulis oleh Anwar Wardah.

Sejatinya menulis merupakan jalan sunyi. Jalan yang tak banyak ditempuh orang sebab tak cukup mampu untuk mendongkrak ketenaran, bahkan tak bisa diandalkan untuk memenuhi gaya hidup kekinian. Karena itu kita lebih sering mendapati orang-orang berbaris rapi menuju meja pendaftaran lomba modelling, kontes putri-putrian, peragaan busana dan casting bintang iklan ketimbang menghenyakkan diri menekuni dunia literasi. Dalam hal ini para orang tua yang memiliki peran penting sebagai lingkungan dan madrasah pertama, malah ikut mengarahkan anak mereka agar bercita-cita menjadi bintang film atau penyanyi.

Menulis, seperti kata Pramoedya Ananta Toer, adalah bekerja untuk keabadian. Ia merupakan tanggung jawab, bukan sekedar minat. Ketika seseorang memutuskan menjadi penulis, maka ia harus bertanggung jawab terhadap apa yang ia tuliskan, baik itu orisinalitas maupun isi tulisan. Karya yang dihasilkan semestinya berasal dari imajinasinya, pemikirannya, gagasannya, bukan menjiplak tulisan orang lain. Namun saat ia mengabaikan tanggung jawab tersebut berarti ia sedang meredupkan cahayanya sendiri. Lambat laun pembaca akan berpaling, meninggalkannya, dan tak lagi peduli.

Meng-copy Berbeda dengan Terinspirasi

Saya ingat, ketika buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dianggap sebuah karya jiplakan. Abdullah Said Patmadji menuduh Buya Hamka telah mencontek novel Al Majdulin atau Magdalaine, karya sastrawan Mesir, Mustafa Luthfi Al Manfaluthi. Tak tanggung, ASP juga membeberkan bukti untuk memperkuat tuduhannya dengan membuat idea strip atau ide utama antar kedua novel tersebut.

Di sisi lain, Hamka mengatakan bahwa ia bukan memplagiat Al Majdulin melainkan terpengaruh dan terinspirasi dengan novel yang ditulis Al Manfaluthi tersebut. Ia juga meminta agar roman yang berwajah kearifan adat dan dibumbui oleh kisah cinta tersebut diteliti secara ilmiah oleh ahli sastra untuk menentukan keotentikannya. Hingga kemudian, HB. Jassin dan Junus Amir Hamzah membukukan pemikiran mereka tentang kisruh yang melanda Buya Hamka dalam buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dalam Polemik.

Begitupun dengan Life of Pi, novel yang mengisahkan tentang bocah Hindia dan seekor harimau yang bernama Richard Parker. Novel yang ditulis Yann Martel ini diisukan telah memplagiat Max and The Cats karya Moacyr Scliar. Kemudian Yann menampik tuduhan tersebut namun tetap mengakui bahwa ia terinsipirasi atas novel besutan Scliar.

Mengenai sisi orisinalitas, sebagian penulis amat kerap berlindung di balik pepatah lawas Yunani, nil movie sub sole, tak ada yang baru di bawah matahari. Ungkapan tersebut seolah-olah melegalkan penulis untuk menjiplak atau memplagiat tulisan dan karya orang lain dengan alasan: segala hal telah terjadi dan dituliskan. Padahal makna ungkapan tersebut tidak mengandung kebebasan untuk memembajaksebuah karya. Adapun nil movie sub sole lebih menekankan pada: apa yang sedang berlaku di dunia ini telah pernah terjadi sebelumnya, seperti masa lalu yang selalu aktual atau sejarah yang senantiasa berulang. Namun sesuatu tersebut dilahirkan kembali, ditulis ulang dengan versi dan cara yang berbeda-beda.

Misalnya ketika mendengar kata cinta, warisan, agama, kebangsaan, politik dan diminta menuliskannya, maka dapat dipastikan pemikiran dan hasil tulisan dari setiap orang tentu berlainan. Begitupun jika diminta menceritakan dan menuliskan kembali tentang kisah masa silam atau dongeng zaman dahulu kala.

Setiap orang pasti memiliki ide atau gagasan yang sama terhadap sesuatu. Karena itu, sebuah karya seorang penulis bisa jadi akan terasa mirip dengan karya penulis lainnya. Namun bagian yang perlu dicatat dan diperhatikan adalah cara masing-masing penulis dalam menangkap dan menuangkan gagasan ke dalam tulisan tentu akan sangat berbeda. Sebab setiap orang, setiap penulis memiliki karakter, ciri khas, dan cara sendiri untuk membahasakan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Dan segala hal itulah yang membuat mereka dikenal oleh pembacanya.(*)

 

*) Penulis, politikus, blogger dan founder Sanggar Pelangi. Berdomisili di Medan.


BACA JUGA

Senin, 18 September 2017 14:38

Beautiful Monday

CERITA tentang hari Senin sering digambarkan kecemasan bahkan kegalauan. Senin menjadi hari pertama…

Senin, 04 September 2017 09:06

Arah Baru dari Empat Jurus Mobil Listrik

KINI ada dua aliran besar dalam penggunaan energi mobil listrik. Aliran baterai dan aliran hydrogen…

Senin, 21 Agustus 2017 11:15

Cahaya Mobil Listrik dari Sosok Nur

Semoga ini adalah awal yang indah untuk kendaraan listrik,....Amiin....21 Agustus 2017Pemecah telur…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .