MANAGED BY:
KAMIS
29 JUNI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Senin, 12 Juni 2017 17:07
MEMPERKOKOH UKHUWAH ISLAMIYAH, WAHTANIYAH, DAN BASYARIYAH DI BULAN PENUH BERKAH
UZ MIKDAR

PROKAL.CO, Civitas Akademika FKIP Universitas Palangka Raya (UPR)  Rabu (7/6) yang lalu telah melaksanakan buka puasa bersama di Halaman Kampus  FKIP UPR, tidak saja dihadiri oleh Dekan FKIP UPR bapak Prof. Dr. Joni Bungai, M.Pd., Dr. Debora, M.Pd. Wakil Dekan I, Prof. Dr. Agus Haryono, M.Si., Wakil Dekan II, juga guru besar FKIP UPR Prof. Dr. Nyoman Sudyana, M.Sc. yang menjabat Wakil Rektor I UPR, serta Prof. Dr. Supramono, M.Pd. sebagai Wakil Direktur I Pascasarjana UPR, dan beberapa pejabat serta undangan lainnya.

H. Suparman sebagai Ketua panitia, dalam kata sambutannya menyampikan bahwa kegiatan buka puasa bersama tersebut dengan tema “kebersamaan”, dan sengaja mengundang semua civitas akademika FKIP UPR tepat pukul 16.00, artinya diharapkan semua civitas akademika sama-sama hadir tepat pada waktu tersebut, tidak hanya untuk peserta yang beragama islam, tapi juga civitas akademika yang kebetulan berbeda agamanya. Dengan hadir bersama menujukkan kebersamaan di kalangan civitas akademika FKIP UPR pada khususnya, sehingga dapat memperkokoh “ukhuwah” persaudaraan, persahabatan dan menumbuhkan kebersamaan di kalangan civitas akademika FKIP UPR itu sendiri, yaitu ukhuwah dalam keragaman, baik perbedaan agama, suku, budaya, status sosial dan lainnya. Seperti yang dirasakan selama ini dengan interkasi dan pergaulan dalam keragaman yang harmoni dan nyaman.

Harapan tersebut, dibuktikan oleh kehadiran pimpinan FKIP UPR tepat waktu, walaupun berbeda keyakinan. Rasa kebersamaan dan toleransi yang relatif tinggi telah ditunjukan oleh Pimpinan FKIP UPR Prof. Joni dan Prof. Nyoman dan undangan lainnya, walau berbeda keyakinan bisa mengikuti, mendengarkan, menyimak tausyiah keislaman dengan tema kebersamaan tersebut. Sikap dan tindakan secara khusu’ tersebut, membuktikan dan memberi contoh tentang nilai-nilai toleransi antar sesama dalam konteks kemajemukan (pluralisme) dari nilai-nilai “ukhuwah wathoniah dan ukhuwah basyariyah” yang ada di salah satu lembaga tinggi keguruan tersebesar tersebut.

Penceramah Ustadz Drs. Azahari, M.Ag. Dosen IAIN Palangka Raya, dalam tausyahnya menyampaikan pentingnya kebersamaan dalam mengelola FKIP UPR tersebut, untuk bisa bersama-sama, gotong royong bahu membahu untuk membangun FKIP UPR yang lebih maju, civitas akademika menyebutnya menuju FKIP UPR “HASIEN” (Hasien: berisi, berbobot, dan berkualitas).

Untuk membangun FKIP UPR “HASIEN” tentunya bisa diawali dengan membangun ukhuwah (persaudaraan) berarti membangun kebutuhan fisik, akal, dan kalbu, sekaligus "membangun hubungan dengan Allah Yang Maha Kuasa" yang telah memberi karunia fisik (physical fitness), akal dan kalbu. Membangun ukhuwah tidak hanya bermodal kepandaian, pangkat, atau jabatan. Karena yang memberi potensi fisik, akal dan kalbu adalah Allah Swt. Islam mengajarkan, jika memutuskan hubungan dengan Allah Swt jangan berharap ukhuwah akan tercapai, karena ukhuwah adalah bagian karunia Allah Swt. Sikap, ucap, dan tindak sekecil apapun dari semua komponen lembaga  termasuk dari civitas akdemika itu sendiri sangat penting untuk ditumbuhkembangkan bahkan dalam berbagai kehidupan di masyarakat yang majemuk ini.

Dalam uraian tausyah lainnya, penceramah juga menyampaikan  pentingnya memiliki keunggulan untuk semua civitas akademika dan komponen lainnya, tidak saja perlu memiliki keunggulan dalam hal keunggulan fisikal, juga keunggulan intelektual, keunggulan emosional, keunggulan spiritual, bahkan keunggulan sosial. Bila semua elemen lembaga pemerintah, masyarakat dan lainnya memiliki keunggulan yang “kompetitif” dan berdaya saing, maka akan meraih suatu prestasi yang diharapkan.

Keunggulan dalam kecerdasan sosial dan nilai-nilai sosial keagamaan lainnya, akan menjadi bagian dari kunci kesuksesan meraih suatu prestasi bagi siapapun, baik nilai-nilai sosial dan sikap seperti kepemimpinan yang kuat dan “sehat”, jujur (sidiq) atau (fairness), kebersamaan, saling menghormati (respect), saling meghargai, saling tolong menolong, tanggung jawab (responsibility), peduli (caring), ketulusan (honesty), berani (courage), tekun (diligence) dan lain-lain.

Oleh karena itu, momen bulan ramadhon yang penuh berkah ini, bisa menjadi motivasi, semangat dan pendorong bagi semua dalam penguatan nilai-nilai ukhuwah dalam kebhinekaan dan keragaman. Baik ukhuwah islamiyah, ukhuwah wahtaniah, dan ukhuwah basyariyah yang mampu memperkokoh dalam persaudaraan, kebersamaan dan gotong royong dalam konteks kemajemukan dalam masyarakat dan lingkungan yang heterogen. Relasi sosial antar individu, kelompok yang berbeda-beda dan beragam bisa menjadi kekuatan dan potensi yang dapat mendukung tercapainya arah pendidikan dan produk keunggulan kependidikan dan sosial dengan berdaya saing tinggi dan kompetitif termasuk pada aspek pembangunan lainnya.

Nilai-nilai Ukhuwah Islamiyah dalam konteks bermasyarakat, pada salah satu sumber dan literatur menyatakan bahwa, upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah tersebut, yaitu (1) ta’aruf (saling mengenal), dengan adanya interaksi satu dengan yang lain akan dapat lebih mengenal karakter individu. Perkenalan meliputi penampilan fisik (Jasadiyyan) pengenalan pemikiran (Fikriyyan), mengenal kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku; (2) Tafahum (saling memahami). Maksudnya saling memahami kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan masing-masing. Sehingga segala macam kesalahpahaman dapat dihindari; (3)  At-Ta’awun (saling tolong menolong). Dalam hal ini, dimana yang kuat menolong yang lemah dan yang mempunyai kelebihan menolong yang kekurangan. Sehingga dengan adanya konsep ini maka kerjasama akan tercipta dengan baik dan saling menguntungkan sesuai fungsi dan kemampuan masing-masing; (4) takaful (saling menanggung/senasib sepenanggungan/saling memberi jaminan). Dengan adanya tafakul akan menumbuhkan rasa aman, tidak ada rasa khawatir dan kecemasan untuk menghadapi kehidupan yang relatif banyak permasalahan.

Dengan adanya ukhuwah islamiyah. Pribadi-pribadi akan merasakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis, karena perbedaan yang ada tidak akan menimbulkan pertentangan dan permasalahan, justru akan menjadikan kehidupan semakin indah. Selain itu, tingkat kesenjangan sosial yang ada di dalam masyarakat juga akan terkikis dengan sendirinya. Hal ini karena adanya semangat ukhuwah islamiyah yang menyatukan segala perbedaan yang ada.

Ukhuwah Wathaniyah memiliki makna persaudaraan/kerukunan dalam bangsa dan negara. Seperti namanya, perwujudan ukhuwah wathaniyah berarti perwujudan kerukunan dalam masyarakat sebangsa dan tanah air. Untuk bisa mewujudkan ukhuwah wathaniyah butuh kerjasama dari banyak pihak, mencakup elit bahkan dari level paling tinggi dengan lintas sektoral dalam keragaman sampai paling bawah pada lingkungan masyarakat itu sendiri.

Namun, untuk mencapai sesuatu yang besar, tetap harus dimulai dari hal-hal yang paling kecil, mulai saat ini, dan dari diri sendiri secara sadar dan tulus melakukannya. Misalnya menjaga ukhuwah antar anggota keluarga hingga antar organisasi masyarakat serta antar pemeluk agama. Apabila semua elemen dari suatu negara dapat menjaga ukhuwah masing-masing serta membangun ukhuwah yang kuat dengan elemen-elemen lainnya, niscaya akan terwujud ukhuwah wathaniyah yang harmonis, tentram, damai, sejahtera, dengan saling menghargai dan menghormati dengan yang lainnya. Termasuk kegiatan-kegiatan di kantor, di tempat kerja dan di lingkungan sosial lainnya.

Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan berdasar kemanusiaan) adalah fondasi bagi bangunan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Ukhuwah basyariyah adalah persaudaraan yang sifatnya sangat substantif, karena bersentuhan dengan kebutuhan fisik, akal dan kalbu sesama muslim, sesama warga bangsa atau sesama manusia.

Proses pengembangan ukhuwah basyariyah harus berupaya membantu kebutuhan pertumbuhan fisik, `aql dan qalbu agar sesuai dengan kehendak penciptanya. Fisik dalah karya terbaik Allah Swt. dengan karunia `aql, Allah Swt memberi kemampuan berfikir kreatif dan dengan karunia qalbu, Allah Swt memberikan kemampuan menangkap dan mengekspresikan keimanan, keislaman dan keihsanan manusia.

Seorang ahli mengatakan, jika potensi tersebut dikembangkan parsial, akan menyebabkan split personality, sehingga: (a) fisik sehat dan kuat, tetapi `aql bodoh karena tidak memperoleh pendidikan yang layak, (b) `aql cerdas dan pandai karena memperoleh masukan ilmu yang memadai, tetapi tubuh atau fisik lemah dan sakit-sakitan karena kekurangan gizi dan pengobatan, atau (c) fisik dan 'aql baik, namun qalbu tidak berfungsi karena refleksi keimanan, keislaman, dan keihsanan lemah, atau singkatnya, kesadaran keagamaan lemah. Jelas, ini jauh dari idealisasi pengembangan ukhuwah basyariyah, karena dalam al-qur`an dan al-hadits banyak disebut, bahwa umat Islam yang diharapkan bukan hanya "bashathatan fil`ilmi wal jism" (keluasan ilmu pengetahuan dan keperkasaan fisik), tetapi juga "aql as-salim" (akal sehat) dan "qalbun salim" (hati nurani yang sehat). Karena pengembangan potensi-potensi inilah yang akan mampu merajut ukhuwah basyariyah dibawah sinaran wahyu untuk menggapai ridlo Allah Swt. Oleh karenanya, perlu keseimbangan ketiga elemen fisik, `aql dan qalbu tersebut.

Sehubungan dengan uraian tersebut, maka untuk memperkokoh ukhuwah islamiyah, wahtaniyah, dan basyariyah adalah dengan (1) ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami). At-Ta’awun (saling tolong menolong), takaful (saling menanggung/senasib sepenanggungan/saling memberi jaminan); (2) membangun dan memperkokoh komunikasi dan kerjasama yang harmonis mulai dari elit, pimpinan lembaga pemerintah dan non pemerintah sampai masyarakat dan akar rumput (grassroot), dimulai dari hal-hal yang paling kecil, mulai saat ini, dan mulai dari diri sendiri secara sadar dan tulus; dan (3) membangun dan mengembangkan aspek fisik, `aql dan qalbu secara seimbang untuk semua dengan berkeadilan. Semoga …

(Penulis adalah Akademisi Keolahragaan, Pendidikan dan Ilmu Sosial).


BACA JUGA

Rabu, 28 Juni 2017 14:05

Stigmasisasi

JURUS stigmasisasi dilancarkan terhadap para warga yang akan digusur sebagai warga liar, kaum kriminal…

Jumat, 23 Juni 2017 11:25

Perpecahan Demi Monumen Sang Ayah

MENGAPA perpecahan keluarga Lee Kuan Yew terjadi sekarang? Bukan tahun lalu? Bukan tahun depan? Saya…

Rabu, 21 Juni 2017 22:52
RENUNGAN RAMADAN

Mendidik Anak

ANAK dalam keluarga adalah buah hati belahan jiwa. Untuk anak orangtua bekerja memeras keringat membanting…

Selasa, 20 Juni 2017 15:08

Efek Medsos

MUNCULNYA kasus persekusi di medsos ini sebenarnya sudah cukup lama. Bermula sejak persidangan kasus…

Minggu, 18 Juni 2017 12:54
RENUNGAN RAMADAN

Ibadah di 10 Hari Terakhir Ramadan

KITA telah melewati sebagian besar dari hari-hari Ramadan. Sekarang kita telah memasuki sepuluh hari…

Sabtu, 17 Juni 2017 14:37

Bung Karno dan Prinsip Ketuhanan

MEMASUKI pertengahan Juni, bulan ini sering disebut sebagai Bulan Bung Karno. Bulan di mana Bung Karno…

Jumat, 16 Juni 2017 16:18

Plagiarisme: Noktah Hitam dalam Dunia Literasi

KASAK-kusuk mengenai plagiarisme yang dilakukan oleh Afi, seleb sosial media yang terkenal lewat tulisan-tulisannya…

Kamis, 15 Juni 2017 16:17
RENUNGAN RAMADAN

Mangkuk, Madu dan Sehelai Rambut

DALAM riwayat sirah nabawiyah disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw mengajak Abubakar, Umar dan…

Kamis, 15 Juni 2017 13:42
RENUNGAN RAMADAN

MENGENAL SETAN

SETAN atau syaitan berasal dari kata “syathatha” atau “syathana” yang berarti…

Selasa, 13 Juni 2017 11:38
Lebih Fokus Dengan Raja Media Dahlan Iskan

Wartawan Kalah Jasa Dengan Jenderal ?

SEHARI bersama Dahlan Iskan, melahirkan cukup banyak cerita yang layak dijadikan tulisan.  Sehari…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .