MANAGED BY:
SABTU
16 DESEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Minggu, 11 Juni 2017 21:15
RENUNGAN RAMADAN
Buta Mata VS Buta Hati

Oleh: Hj Qanita Tajuddin, M.Pd

Ilustrasi

PROKAL.CO, LELAKI buta itu bersegera mendatangi Rasulullah SAW. Dadanya bergemuruh. Keinginannya sangat kuat untuk membersihkan diri dan bertanya banyak hal tentang agama yang baru dianutnya.

Sementara di sisi yang lain, sesuatu yang kontradiktif terjadi. Ada lelaki dengan status sosial tinggi dari kalangan elite negeri, acuh tak acuh. Meski Rasulullah Saw memprioritaskan memberi pencerahan Islam kepadanya. Tak terketuk untuk membersihkan diri meskipun peluang itu ada di depan mata.

Kisah Abdullah bin Umi Maktum sahabat nabi yang buta ini, Allah SWT  abadikan di surah Abasa ayat 1 sampai 16. Sangat menohok jiwa jika direnungkan sepenuh hati. Keterbatasan fisiknya tidak menghalangi diri untuk berbenah. Matanya boleh jadi buta, namun hati dan jiwanya tidak buta.

“Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya dari dosa. Atau dia ingin mendapat pengajaran. Lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya” (QS Abasa ayat 3-5).

Kisah ini menjadi penggugah jiwa, apalagi saat membaca dan merenunginya ini di bulan Ramadan.  Ramadan ini Allah swt bentangkan berbagai pintu ampunan dan kemuliaan. Tapi tak semua orang bersegera berlari menggapai ampunan Allah swt ini.

“Dialah yang menerima taubat dari hamba Nya, memaafkan kesalahan, dan mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Asy Syura ayat 25).

Manusia tak pernah berhenti berbuat kesalahan. Setiap hari ada saja kesalahan yang terjadi. Ada orang-orang yang menyadari jika melakukan kesalahan, namun segera bertaubat dan berupaya menjadi lebih baik. Seperti halnya Abdullah bin Umi Maktum.

Tapi ada orang-orang bebal, keras jiwanya, buta hatinya, tak merasa bersalah dengan kesalahan yang sudah diperbuat. Matanya secara fisik tidak buta, namun mata hatinya yang buta. Seperti halnya kisah pembesar negeri di surah Abasa tersebut.

“Sungguh merugi, orang yang memperoleh kesempatan merasakan bulan Ramadan akan tetapi tidak diampuni dosanya” Hadits Riwayat Tirmidzi.

Kesempatan datangnya Ramadan adalah kesempatan emas. Mungkin saja tidak terulang kembali tahun depan. Karena jatah usia sudah Allah Swt cukupkan sebelum datangnya Ramadan tahun depan.

Menuliskan list kekhilafan dan kesalahan yang pernah dilakukan. Selanjutnya mengisi malam-malam Ramadan dengan cucuran air mata taubat. Memohon ampunan dengan tulus kepada penggenggam nyawa manusia.

Semoga Allah Swt masih berkenan melimpahkan kepekaan hati. Sehingga hati menjadi sensitif terhadap kesalahan yang kita lakukan. Jika sudah begini maka ada keinginan kuat untuk memohon ampunan Nya.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Swt berfirman: “Wahai manusia tidaklah kamu berdoa dan berharap kepada Ku melainkan Aku akan mengampuni dosa yang telah kamu lakukan, dan Aku tidak menghiraukan kembali dosa itu”. (*/nto)


BACA JUGA

Rabu, 01 November 2017 14:49
Happy Monday

“PAD Haram”

SEBULAN yang lalu, tepatnya 28 September 2017, sebanyak 47 wartawan di Kalteng mengikuti Uji Kompetensi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .