MANAGED BY:
SABTU
24 JUNI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Sabtu, 15 April 2017 15:59
Film Sebagai Konsumsi Intelektual

Oleh: Arifin*

Arifin

PROKAL.CO, FILM sekarang sudah menjadi bagian hidup manusia. Masyarakat urban maupun perkampungan, mulai dari muda, dewasa, sampai renta, asalkan memiliki aksesnya maka film sudah bisa disaksikan. Semua orang tahu, hampir semua orang menyukainya.

Biasanya film menjadi media favorit untuk menemani waktu senggang. Ada juga yang memang membutuhkan untuk  melepas penat dari rutinitas. Pendeknya, film sudah menjadi kebutuhan, kebutuhan manusia akan hiburan.

Sah-sah saja jika kita menyikapi film dengan menganggapnya sebagai media untuk hiburan saja. Memang pada satu sisi produksi film orientasinya pada komersil dan pemenuhan keperluan manusia akan hiburan. Konsumsi dan pemenuhan kepuasan.

Namun, nyatanya film tidak sesederhan itu. Pada era ini hal-ihwal tentang film sudah kompleks. Karena  bergandengan dengan kehidupan  manusia yang dinamis, maka tidak bisa dipungkiri film sudah berkelindan dengan perjalanan hidup manusia itu sendiri, sosial maupun budaya.

Karena keberpengaruhan film pada sosial dan budaya inilah, menurut saya film mestinya juga menjadi kajian, sama halnya dengan kita tertarik untuk mengkaji fenomena sosial dan budaya manusia itu sendiri. Maka, film tidak hanya sebatas fungsional hiburan saja. Tetapi juga berfungsi untuk memenuhi dahaga intelektual kita, rasa penasaran kita terhadap fenomena.

Pada Negara-negara maju, film sudah lama menjadi kajian. Apalagi di kalangan masyarakat intelektualnya, kajian film seakan menjadi menu  lezat terhadap gairah konsumsi intelektual mereka.

Hal inilah yang saya coba ingin perkenalkan pada tulisan ini. Bagaimana film itu disikapi dengan meneliti. Tidak hanya ditonton dan dinikmati, tidak hanya sebagai konsumen penikmat yang pasif , tetapi konsumen film yang menjadikannya sebagai konsumsi intelektual.

Karena dalam hidup ini, tidak hanya kebutuhan akan hiburan saja yang harus dipenuhi manusia. Seperti kata Reza A.Wattimena dalam blognya, level-level kebahagiaan itu ada banyak, tidak hanya kebahagiaan jiwa saja, kebahagiaan intelektual pun juga mesti dipenuhi. Kebutuhan diri kita akan pengetahuan lebih banyak. Film bisa dijadikan objek kajian untuk memenuhi kebahagiaan intelektual kita itu.

Setidaknya ada dua langkah penting ketika mengkajia film, yang  pertama adalah mencoba mendiskripsikan lebih jauh film itu, menguak segala hal di baliknya, fenomena di balik fenomena film. Yang kedua adalah memberikan kritik pada fenomena itu.  Jadi tidak hanya mendifinisikan saja tetapi juga memberikan kontrol dan arahan  bagaimana kita menyikapi film itu.

Biar mudah, kita langsung beranjak ke contoh saja. Kemarin, booming film Beauty and  the Beast. Banyak sekali peminatnya di Indonesia, tontonan baru, hiburan baru. Film yang diadaptasi dari dongeng tersebut bahkan sudah jauh-jauh hari ditunggu rilisnya.

Namun, ada yang punya pandangan mendalam terhadap film ini. Pada kolom opini Republika, saya pernah membaca tulisan yang mengulas tentang  apa motif ditampilkannya tokoh  gay  (homo) dalam film ini, dan dimainkan sampai happy ending. Penulis ini mengkaji film itu dengan menggunakan Teori Semiotika.

Teori Semiotika secara sederhana adalah teori yang digunakan untuk menggali makna dari tanda-tanda yang terdapat dalam film. Jelas penulis tadi menyikapi film itu dengan semangat intelektualitas. Inilah yang saya maksud dengan mendeskripsikan secara mendalam kemudian mengkritiknya tadi.

Dengan Semiotika, kita bisa menyelami lebih dalam, menerawang lebih jauh tentang film itu, khususnya apa maksud  pembuat film memuat unsur-unsur gay  dalam film itu. Kita bisa meneliti lebih  kritis terhadap makna-makna yang tercipta dalam film itu. Kemudian, memberikan kritik dan sarannya bahwa jika benar ada misi promosi nilai-nilai liberal seperti gay itu pada filmnya, maka kita harus memperingatkan bahwa nilai-nilai liberal itu tidak bersesuaian dengan budaya Indonesia.

Dengan begitu, dahaga intelektual kita terpuaskan, kontrol sosial juga kita laksanakan.

Contoh selanjutnya, pada sisi psikologis. Pandangan-pandangan psikologi komunikasi juga bisa digunakan untuk membedah film. salah satunya adalah  efek behavioral. Film dianggap memliki pengaruh besar terhadap perilaku manusia. secara alam bawah sadar manusia tidak terasa dirinya terpengaruh oleh film.

Seperti halnya, Emma Watson, pemeran tokoh Hermione Granger dalam serial Harry Potter. Emma Watson, secara tidak sadar ternyata dalam kehidupan nyatanya terpengaruh oleh karakter super jeniusnya Hermione Granger. Dia mengakui malah akhirnya termotivasi menjadi secerdas perannya di film. Sampai sekarang ia menjadi salah satu artis yang brilian.

Terhadap masyarakat? sudah pasti ada pengaruhnya. Maka, dengan kajian itu kita jauh lebih mengetahui tentang efek film kemudian bisa memberikan kontrol  pada diri terhadap efek-efek film tersebut.

Akhirnya, saya berharap pada kita semua tidak hanya menyikapi film dengan hanya sebagai konsumen penikmat saja. Kita bisa menjadikannya objek untuk menambah wawasan, dengan mengkajinya. Kebiasaan mengkaji adalah budaya masyarakat intelektual yang harus dimiliki sebuah negara. Agar dengannya terciptalah bangsa yang berperadaban, seperti di film-film berperadaban tinggi yang sering kita tonton. (*)

*Mahasiswa KPI IAIN Palangka Raya


BACA JUGA

Jumat, 23 Juni 2017 11:25

Perpecahan Demi Monumen Sang Ayah

MENGAPA perpecahan keluarga Lee Kuan Yew terjadi sekarang? Bukan tahun lalu? Bukan tahun depan? Saya…

Rabu, 21 Juni 2017 22:52
RENUNGAN RAMADAN

Mendidik Anak

ANAK dalam keluarga adalah buah hati belahan jiwa. Untuk anak orangtua bekerja memeras keringat membanting…

Selasa, 20 Juni 2017 15:08

Efek Medsos

MUNCULNYA kasus persekusi di medsos ini sebenarnya sudah cukup lama. Bermula sejak persidangan kasus…

Minggu, 18 Juni 2017 12:54
RENUNGAN RAMADAN

Ibadah di 10 Hari Terakhir Ramadan

KITA telah melewati sebagian besar dari hari-hari Ramadan. Sekarang kita telah memasuki sepuluh hari…

Sabtu, 17 Juni 2017 14:37

Bung Karno dan Prinsip Ketuhanan

MEMASUKI pertengahan Juni, bulan ini sering disebut sebagai Bulan Bung Karno. Bulan di mana Bung Karno…

Jumat, 16 Juni 2017 16:18

Plagiarisme: Noktah Hitam dalam Dunia Literasi

KASAK-kusuk mengenai plagiarisme yang dilakukan oleh Afi, seleb sosial media yang terkenal lewat tulisan-tulisannya…

Kamis, 15 Juni 2017 16:17
RENUNGAN RAMADAN

Mangkuk, Madu dan Sehelai Rambut

DALAM riwayat sirah nabawiyah disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw mengajak Abubakar, Umar dan…

Kamis, 15 Juni 2017 13:42
RENUNGAN RAMADAN

MENGENAL SETAN

SETAN atau syaitan berasal dari kata “syathatha” atau “syathana” yang berarti…

Selasa, 13 Juni 2017 11:38
Lebih Fokus Dengan Raja Media Dahlan Iskan

Wartawan Kalah Jasa Dengan Jenderal ?

SEHARI bersama Dahlan Iskan, melahirkan cukup banyak cerita yang layak dijadikan tulisan.  Sehari…

Senin, 12 Juni 2017 17:07

MEMPERKOKOH UKHUWAH ISLAMIYAH, WAHTANIYAH, DAN BASYARIYAH DI BULAN PENUH BERKAH

Civitas Akademika FKIP Universitas Palangka Raya (UPR)  Rabu (7/6) yang lalu telah melaksanakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .