MANAGED BY:
SABTU
24 JUNI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Sabtu, 08 April 2017 14:31
Melek Media Cegah Syahwat Share Berita

Oleh: Arifin*

Arifin

PROKAL.CO, TIDAK ada yang bisa menafikan bahwa hoax sudah marak di Indonesia. Menurut data  Kementerian Komunikasi dan Informasi, sejak tahun 2014 hoax sudah  berkembang secara signifikan sampai 2017.

Momen  politik seperti pemilihan presiden dan pilkada serentak menjadi ladang bagi hoax ini tumbuh subur. Konten yang sering muncul pada momen  itu adalah berita bohong, ujaran kebencian, dan tentang isu-isu keetnisan seperti isu pekerja asing asal Cina kemarin.

Konten  itu muncul tidak hanya pada situs-situs tapi juga pada media sosial. Tentu saja ini berpotensi mengganggu kerukunan masyarakat di Indonesia.        

Banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi bahaya hoax ini. Salah satunya adalah dengan menutup situs-situs yang diduga menjadi sarang hoax. Dilanjutkan dengan pengklarifikasian media-media yang dianggap bebas hoax  melalui Dewan Pers. Dari usaha itu terlihat fokus pemerintah adalah  pada upaya menutup sumber saluran dari hoax.

Tentu saja usaha itu patut diapresiasi. Namun pertanyaannya adalah di era internet yang  serba mudah sekarang ini, bisakah pemerintah melacak semua situs hoax yang terlampau banyak itu, kemudian menutupnya? Itu agaknya mustahil dilakukan. Karena kemudahan  internet ini bagaikan  lahan yang subur sekali, ketika satu sumber hoax ditutup melaui situs,  banyak hoax lainnya muncul di media sosial.

Menurut saya, usaha memerangi hoax ini tidak cukup hanya pada pencegahan sumber hoax-nya saja. Namun juga yang yang tidak kalah penting adalah bagaimana mendidik masyarakat tentang melek media. Upaya ini saya kira lebih efektif, karena pencegahannya langsung  pada pada masyarakat sebagai penerima pesan. Ketika masyarakat sudah cerdas bermelek media, sebanyak apapun hoax yang muncul tidak akan masalah, karena masyarakat sudah punya filter untuk mengantisipasinya.

Secara sederhana, melek media atau biasa juga disebut literasi media adalah kemampuan secara efektif dan bijak dalam  menyikapi segala hal yang dihasilkan oleh media. salah satu hal yang diajarkan dalam melek media adalah bagaimana menyikapi aktivitas share berita agar tidak berjalan dengan sembarangan, apalagi pada masyarakt Indonesia yang sering kali bangga ketika menyebarkan berita pertama kali, tanpa peduli benar atau tidaknya berita tersebut. Berikut beberapa langkah-langkah yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh masyarakat sebelum share berita.

Langkah pertama, menganalisis. Kemampuan menganalisis memang menjadi kemampuan yang harus dimiliki seseorang di era media sosial ini. Kita harus menanamkan pemahaman  bahwa  Setiap berita maupun artikel yang sampai pada kita belum tentu seratus persen menggambarkan realitas sebenarnya.

Menurut teori agendasetting, setiap kejadian sebenarnya yang terjadi di tempat kejadian perkara, kemudian diliput oleh sebuah media, kejadian tersebut tidak langsung diberitakan kepada masyarakat melainkan  dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan kebijakan media tersebut ( Maxwel McCombs dan L.Shaw dalam Mass Communication 1973). Akibatnya kadangkala realitas yang sebenarnya bisa tersamarkan bahkan bisa berbalik arah dari fakta yang sebenarnya.

Pada langkah ini ada dua hal yang harus kita analisis yaitu isi berita atau artikel dan sumber berita atau artikel  tersebut. Isi berita tolok ukurnya adalah masuk akal atau  tidaknya isi berita tersebut, untuk ini tentu saja kita harus memiliki kemampuan berpikir logis dan kritis sebagai modal analisisnya.

Kemudian untuk sumber berita kita harus mampu melacak seberapa kredibel sumber tersebut dan juga kepentingan apa yang ada di balik kebijakan media yang menjadi sumber tersebut.

Langkah kedua, yaitu memverifikasi dan  membandingkan. Setelah menganalisis, memastikan  ulang berita tersebut juga diperlukan. Verifikasi berita ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya untuk mencapai fakta dalam berita kita harus memastikannya dengan mendatangi tempat kejadian ataupun menanyakannya ke berbagai ahli yang berkompeten terhadap kejadian dalam berita tersebut.

Kalaupun cara itu tidak bisa kita lakukan, bisa diganti dengan mencari berita lain dari sumber berbeda untuk dijadikan berita pembanding, sehingga kita tidak salah dalam mengambil kesimpulan yang kemudian mengakibatkan kita salah dalam men-share berita.

Pada konteks isu tenaga kerja asing asal Cina yang sempat heboh  kemarin  misalnya, memang biasanya penyebar isu ini selalu memuat data-data sehingga orang awam menganggap itu adalah fakta yang sebenarnya, namun seharusnya ketika isu ini sampai pada kita, jangan langsung bergegas men-share tapi pastikan ulang data-data tersebut. Kita harus memverifikasinya, membandingkannya dengan data-data pada sumber yang lebih bisa dipercaya seperti data statistik tentang ketenagakerjaan ataupun menanyakannya kepada pihak yang lebih mengerti tentang jumlah tenaga kerja tersebut. Bukannya langsung menelan mentah-mentah data-data dari berita yang baru sekali dapat sekali sekali baca, kemudian enteng sekali men-share­-nya.

Tahap ketiga, evaluasi. Evaluasi di sini diartikan dengan  menilai berita yang kita terima itu apakah perlu atau tidaknya  disebarkan. Ini adalah gerbang terakhir yang menentukan apakah berita akan lanjut dishare atau hanya cukup berhenti pada kita saja.

Di sini kita harus bijak memilah berita dan memprediksikan apa dampak berita tersebut terhadap masyarakat.

Dalam hal keperluan share berita ini ada dua kriteria berita menurut McLuhan, Pertama, berita  biasa, jenis ini hanya memuat fakta yang efeknya hanya bersifat informasi biasa dan wajar seperti berita tentang hasil pertandingan olahraga, tentang kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Yang kedua, berita serius yang efeknya bisa sampai menyentuh ranah ideologis dan cara berpikir contohnya berita tentang etnis tertentu seperti kasus tenaga kerja asing Cina di atas, tentang politik dan kebijakan yang melibatkan masyarakat luas, berita  yang berhubungan dengan SARA, dan sebagainya. Pada jenis yang kedua inilah yang harus lebih diperhatikan secara mendalam dan tidak sembarangan di-share (Teori Komunikasi Individu hingga Massa, 2013)

Dalam tahap ini yang harus selalu kita pertimbangkan adalah benar atau salahnya, baik atau buruknya, dan manfaat atau mudaratnya berita dan dampak dari berita tersebut. Sehingga kita akan lebih bijak untuk men-share sesuatu di era media sosial ini.

Sebagai kesimpulan, di era mudahnya aktifias bermedia dengan bantuan tekhnologi sekarang ini dan melihat dampaknya yang serius pada masyarakat, memang sangat perlu adanya melek media sebagai rem untuk mengendalikan syahwat share berita yang sembarangan.

Ketika ada berita atau artikel yang sampai pada kita jangan mudah tergoda untuk langsung menyebarkannya melainkan harus dianalisis, diverifikasi dan bandingkan, serta evaluasi terlebih dahulu.

Sebagai saran, melihat perlunya melek media ini sudah saatnya semua lapisan masyarakat harus lebih mengerti tentang melek media dan mensosialisasikannya kepada masyarakat lain sehingga tercipta aktifitas bermedia yang sehat dalam masyarakat kita.

 

*Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam di IAIN Palangkaraya.


BACA JUGA

Jumat, 23 Juni 2017 11:25

Perpecahan Demi Monumen Sang Ayah

MENGAPA perpecahan keluarga Lee Kuan Yew terjadi sekarang? Bukan tahun lalu? Bukan tahun depan? Saya…

Rabu, 21 Juni 2017 22:52
RENUNGAN RAMADAN

Mendidik Anak

ANAK dalam keluarga adalah buah hati belahan jiwa. Untuk anak orangtua bekerja memeras keringat membanting…

Selasa, 20 Juni 2017 15:08

Efek Medsos

MUNCULNYA kasus persekusi di medsos ini sebenarnya sudah cukup lama. Bermula sejak persidangan kasus…

Minggu, 18 Juni 2017 12:54
RENUNGAN RAMADAN

Ibadah di 10 Hari Terakhir Ramadan

KITA telah melewati sebagian besar dari hari-hari Ramadan. Sekarang kita telah memasuki sepuluh hari…

Sabtu, 17 Juni 2017 14:37

Bung Karno dan Prinsip Ketuhanan

MEMASUKI pertengahan Juni, bulan ini sering disebut sebagai Bulan Bung Karno. Bulan di mana Bung Karno…

Jumat, 16 Juni 2017 16:18

Plagiarisme: Noktah Hitam dalam Dunia Literasi

KASAK-kusuk mengenai plagiarisme yang dilakukan oleh Afi, seleb sosial media yang terkenal lewat tulisan-tulisannya…

Kamis, 15 Juni 2017 16:17
RENUNGAN RAMADAN

Mangkuk, Madu dan Sehelai Rambut

DALAM riwayat sirah nabawiyah disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw mengajak Abubakar, Umar dan…

Kamis, 15 Juni 2017 13:42
RENUNGAN RAMADAN

MENGENAL SETAN

SETAN atau syaitan berasal dari kata “syathatha” atau “syathana” yang berarti…

Selasa, 13 Juni 2017 11:38
Lebih Fokus Dengan Raja Media Dahlan Iskan

Wartawan Kalah Jasa Dengan Jenderal ?

SEHARI bersama Dahlan Iskan, melahirkan cukup banyak cerita yang layak dijadikan tulisan.  Sehari…

Senin, 12 Juni 2017 17:07

MEMPERKOKOH UKHUWAH ISLAMIYAH, WAHTANIYAH, DAN BASYARIYAH DI BULAN PENUH BERKAH

Civitas Akademika FKIP Universitas Palangka Raya (UPR)  Rabu (7/6) yang lalu telah melaksanakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .