MANAGED BY:
RABU
25 APRIL
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

NASIONAL

Minggu, 12 Maret 2017 23:47
STOP!! Jangan Pernah Lakukan Skip Challenge, Dampaknya Fatal
Permainan Skip Challenge yang saat ini sedang viral dan banyak dilakukan di kalangan pelajar, sangat berbahaya dan bisa berdampak fatal, baik jangka pendek maupun jangka panjang. (Foto: net)

PROKAL.CO, JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy membeberkan bahayanya aksi Skip Challenge oleh pelajar. Dia meminta tantangan berbahaya seperti yang beredar di media massa itu itu segera dihentikan.

“Permainan Skip Challenge sangat berbahaya bagi siswa, dan ini harus diberikan larangan keras,” ujarnya.

Dia menyampaikan, permainan tersebut sangat membahayakan siswa, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dalam jangka pendek, siswa bisa pingsan. Sementara dalam jangka panjang, siswa bisa terancam mengalami kerusakan otak.

“Apa yang dilakukan sewaktu muda, akan memberikan dampak saat sudah tua. Permainan tersebut sangat membahayakan, dan akan berdampak buruk bagi kesehatan siswa,” jelasnya.

Karenanya, Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu mengimbau agar guru dan kepala sekolah memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas siswa di lingkungan sekolah.

Baik saat jam istirahat maupun jam pulang sekolah. Sehingga, tantangan-tantangan yang membahayakan ini bisa dicegah.

“Lakukan aktivitas yang positif dalam mengekspresikan diri. Aktivitas yang membahayakan harus segera diberhentikan,” tuturnya.

Muhadjir pun turut mengajak orang tua dapat lebih aktif berkomunikasi dan memantau aktivitas anak-anaknya. Bukan hanya melimpahkan seluruhnya pada pihak sekolah.

“Peran orang tua untuk memberikan pemahaman tentang risiko aktivitas berbahaya seperti skip challenge sangatlah penting,” ujarnya.

Kegagalan Orang Tua dan Guru

Pemerhati Anak Seto Mulyadi menganggap viralnya skip challenge ini sebagai salah satu bentuk kegagalan orang tua dan guru dalam membangun komunikasi dengan anak.

Pasalnya, bila komunikasi bisa terjalin dengan baik dan dua arah, maka orang tua dan guru bisa segera menghentikan rantai aksi berbahaya tersebut.

”Orang tua misalnya, harus update juga soal apa yang terjadi di sekitar anak. Sehingga, begitu tahu ada challengeberbahaya ini bisa langusng didiskusikan dengan anak,” ungkapnya.

Halaman:

BACA JUGA

Senin, 12 Maret 2018 16:55

Demokrat Kalteng Siap Hadapi Pilkada dan Pemilu

JAKARTA-Partai Demokrat Provinsi Kalteng memberangkatkan ratusan peserta mengikuti Rapat Pimpinan Nasional…

Sabtu, 03 Maret 2018 07:40

DICARI...! 40 Ribu Pendamping Dana Desa

JAKARTA-Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo mengungkapkan…

Senin, 08 Januari 2018 17:24

Inikah Penyebab Ahok Menggugat Cerai Veronica Tan?

KABAR perselingkuhan yang menjadi biang kerok gugatan cerai Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .