MANAGED BY:
SENIN
29 MEI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Sabtu, 25 Februari 2017 08:45
AHY dalam Konstelasi Politik
UZ MIKDAR

PROKAL.CO, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tatkala diputuskan untuk menjadi calon gubernur DKI Jakarta, tentu banyak orang yang kaget seakan mendadak dan dipaksakan. Hal itu, karena AHY pada saat tersebut dianggap masih muda dengan status militer aktif, bahkan sebagian masyarakat menyayangkan keputusan tersebut itu, karena AHY termasuk prajurit dengan prestasi yang relatif “cemerlang” yang dimungkinkan bisa meraih prestasi tinggi di kemiliteran.

Keputusan yang mengagetkan dari sebagian masyarakat tersebut, bagi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)tentu dengan hitungan-hitungan politik dan sosial yang matang, serta tidak lepas`dari dukungan berbagai fihak terlebih untuk SBY sebagai orang tuanya sendiri dan sebagai Presiden keenam Indonesia yang memiliki kematangan dalam berpolitik. Kekagetan yang ada, dikarenakan AHY adalah anggota militer aktif dengan prestasi tinggi, masih muda, cerdas, juga memiliki pengalaman akademik yang relatif tinggi pula yang diprediksi akan menjadi perwira tinggi dengan kepangkatan yang tinggi pula. Sedangkan pengalaman dalam politik bagi AHY masih kurang, bila dibandingkan dengan adiknya Edhie Baskoro Yudhoyono “Ibas” dan generasi seusianya yang lebih dahulu terjun di kancah politik Indonesia.

Bila keberanian SBY dalam merestui anaknya AHY menjadi calon gubernur DKI Jakartasudah barang tentu punya analisis yang kuat dan kalkulasi politik yang tajam untuk mendorong AHY menjadi bagian dari politik Indonesia. Terlebih SBY, tidak saja sebagai mantan presiden yang relatif sukses, juga memiliki kemampuan dalam politik, relasi politik, relasi sosial-emosional lainnya yang relatif masih kuat dalam berbagai strata struktural dan lapisan masyarakat lainnya, disamping analisis tantangan yang harus dihadapinya dari segmen-segmen yang tidak sejalan dengan “roh” politiknya SBY.

Asumsi yang pernah beredar sebelum Pilgub DKI dilaksanakan, yang terkait dengan “keberanian” mengajukan AHY untuk terjun ke dunia politk dan meninggalkan dunia kemiliteran, adalah dengan asumsi: (1) bila AHY terpilih menjadi gubernur DKI, maka AHY akan lebih cepat menjadi tokoh politik bahkan memiliki “branding” nasional dibandingkan karir di kemiliterannya, yang memerlukan waktu dan rentang kepangkatan stidaknya enam tingkatan yang harus dilalui AHY untuk bisa menjadi puncak pimpinan kemiliteran di Indonesia. Disamping posisi Jakarta sebagai ibu kota negara yang memiliki nilai-nilai “prestisius” tidak saja secara nasional  bahkan internasional; dan (2) bila AHY kalah menjadi gubernur DKI, maka AHY akan didorong untuk totalitas menjadi bagian dari partai politik di Indonesia, terlebih bila AHY menjadi ketua umum partai, maka ketokohan nasional AHY akan lebih cepat dan peluang menjadibagian dari alternatif kepemimpinan nasional kedepan.

Halaman:

BACA JUGA

Minggu, 28 Mei 2017 12:04
RENUNGAN RAMADAN

Manusia Menurut Alquran

ALLAH menyatakan dengan tegas di dalam Alquran bahwa manusia diciptakan dari tanah dengan berbagai istilah…

Sabtu, 27 Mei 2017 08:53
RENUNGAN RAMADAN

Puasa dan Hikmahnya

MARHABAN Ya Ramadan. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT, karena Dia masih memberikan umur panjang…

Senin, 22 Mei 2017 15:18

Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

ISTILAH keluarga dan pendidikan ibarat dua sisi mata uang yang tidak mungkin bisa dipisahkan. Dimana…

Senin, 22 Mei 2017 14:46

Pelajaran Menikmati Diri Sendiri

INILAH salah satu kesibukan utama saya selama diperkarakan oleh Kejati Jatim: nonton Dangdut Academy…

Minggu, 21 Mei 2017 18:14

Pendidikan: Gengsi atau Kebutuhan?

SETIAP tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Dipelopori oleh pendirinya…

Minggu, 21 Mei 2017 17:13

Kekerasan dalam Pendidikan: Tanggung Jawab Siapa?

MASIH terjadi dan terulangnya tindak kekerasan dalam pendidikan yang melibatkan oknum pendidik, tenaga…

Senin, 15 Mei 2017 22:50

Vonis Ahok dan Tekanan Keadilan

SETELAH melalui proses panjang dan 21 kali sidang, akhirnya hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto membacakan…

Jumat, 12 Mei 2017 14:52

HTI Bubar, Akankah Transnasionalisme Berakhir?

PEMERINTAH melalui Menko Polhukam Wiranto akhirnya mengumumkan rencana pembubaran Hizbut Tahrir…

Jumat, 12 Mei 2017 09:36

Invisible Hand Behind Ahok

PROF. Jeffrey Winters bilang Mr. Joko adalah presiden terlemah dalam sejarah Indonesia. Megawati sebut…

Kamis, 11 Mei 2017 12:37

Rasanya Kita yang Besarkan HTI

BEGITU banyak kelompok dalam Islam. Non-Islam sering tidak tahu. Lalu mengira sama. Bahaya semua. HTI,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .